BAHAGIAN 2 (a) TARIAN CIRI UTAMA TAREKAT MAULAWIYYAH

Yang membuat terkat ini beda merupakan dakwah dengan tutorial memakai tarian-tarian yang disebut sama’ dalam bentuk tarian berputar, dan telah menjadi ciri khas dasar untuk tarekatnya. Akibatya, tarekat Rumi di Barat dikenal dengan sebutan The Whirling Darvish (Para Darwis yang Berputar). Tarian suci ini dimainkan oleh para Darwish (fuqara) dalam pertemuan-pertemuan (majlis) sebagai dukunga eksternal terhadap upacara-upacara (ritual mereka).

Sama’ dilembagakan oleh Rumi pertama kali setelah hilangnya gurunya yang sangat dicintain, yaitu Syamsuddin Tabrizi. Sejak saat itu Rumi menjadi sensitif terhadap musik, sehingga tempaan palu dari seorang pandai besi aja cukup untuk membuatnya menari dan berpuisi.

Bagian-bagian atau tahap-tahap dalam sama’ terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terdiri dari Naat (suatu puisi yang memuji Nabi Muhammad), Improvisasi ney (seruling) atau taksim dan “Lingkaran Sultan Walad”.

Bagian kedua terdiri dari empat salam, musik instrumental akhir, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan do’a.

Inilah rinciannya:

 

1.      Bagian Pertama

 

a.       Naat, yaitu semacam musik religius. Naat dalam musik Maulawi disusun oleh Buhuriz Musthafa ‘Itri (1640-1712 M), akan tetapi puisinya merupakan puisi Rumi.

b.      Taksim. Merupakan suatu improvisasi terhadap setiap makam atau mode, yaitu konsep penciptaan musik yang menentukan Interaksi-Interaksi nada, nada awal yang mempunyai kontor dan pola-pola musik. Bagian ini merupakan bagian yang sangat keratif dari upacara Maulawi.

c.       Lingkaran atau Putaran Sultan Walad, ini disumbangsikan oleh putra sulung Maulana, yaitu Sultan Walad. Selama putaran ini para Darwish yang Empati bagian dalam putaran tari berjalan mengelilingi sang samahane (ruang upacara) tiga kali dan menyapa satu sama lain di depan pos (lokasi tempat pemimpin tekke atau pemimpin upacara berdiri). Dengan tutorial ini mereka menyampaikan “rahasia” dari yang satu kepada yang lain.

 

2.      Bagian kedua (empat salam), yaitu:

a.       Salam Pertama, melodi biasanya penjang dan irama yang digunakan biasanya disebut “putaran berjalan” atau Devr-i Revan. Bitnya merupakan 14/8.

b.      Salam Kedua, pola irama dari salam ini disebut “Evfer” dan terdiri dari 9/8 bit.

c.       Salam Ketiga, Dikotomi kedalam dua bagian yang meliputi melodi dan irama. Bagian pertama disebut “putaran” atau the cyircle bitnya 28/4. Dan bagian yang kedua disebut “Yoruk semai” bitnya 6/8.

d.      Salam Keempat, pola irama ini juga “Efver” bitnya 9/8, yakni irama lambat dan panjang untuk menurunkan elastasi sehingga sang darwisy Bisa konsentrasi kembali. Tiap-tiap salam dihubungkan melalui nyanyian. di bagian pertama dan kedua seleksi diambil dari Divan-i Syams atau Mastnawi, sedangkan di bagian ketiga puisi mawlawi lain dinyanyikan.

 

3.      Musik Intrumental

Dengan berakhirnya salam keempat berarti bagian oral selesai “Yuruk semai” kedua dalam pola-pola 6/8 merupakan akhir dari upacara. Setelah seleksi instrumental ini ada taksim seruling. terkadang-terkadang musik ini Bisa dimainkan melalui alat musik petik (senar).

 

4.      Membaca Al-Qur’an dan Do’a

Setelah musik selesai, seorang hafidz di antara para penyanyi membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Sama’ terus berlangsung hingga bacaan Al-Qur’an dimulai. saat hafidz mulai membaca Al-Qur’an setelah itu para penari tiba-tiba berhenti dan mundur ke pinggir ruangan dan duduk. Setelah ia selesai, setelah itu pimpinan sama’ berdiri dan mulai berdo’a di depan sang syaikh, do’a ini biasanya ditunjukkan untuk kesehatan dan Hayati sang sultan atau para penguasa negara.

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *