Diam Bagai Gunung Berapi (‘Revolusi’ Putih 7)

Oleh : Nasihin Masha

ceramah.xyz, Dua petinggi negara pemegang otoritas penting mengadakan pertemuan dengan sejumlah orang. Pejabat pertama mengatakan bahwa aksi 411 dan 212 itu merupakan wake up call radikalisme Islam di Indonesia, sambil menegaskan bahwa komunisme sudah bukan ancaman lagi untuk Indonesia. Pejabat kedua menyebutkan bahwa semua rentetan itu merupakan bagian dari tahapan Futuristis kehancuran seperti yang menimpa Suriah. Dua kesimpulan dari dua pejabat itu sangat mengerikan. Bukan ngeri terhadap kesimpulannya, tapi ngeri terhadap kemampuannya menyimpulkan.

Dengan segala otoritas yang dimiliki, dengan segala sumberdana yang diberikan, dengan daya dukung kelembagaan dan sumberdaya manusia yang ada, semestinya mereka mampu menghimpun data dengan cara lebih detil dan dalam. Mereka hanya fokus di FPI dan MMI aja. Mereka juga hanya mengambil pernyataan-pernyataan yang sesuai untuk hingga di kesimpulan itu. tips menyimpulkan seperti ini sangat khas penguasa yang defensif. bila hendak objektif, ada dua isu utama dari kejadian tersebut yaitu ada masalah dengan sila ketiga dan sila kelima Pancasila: persatuan dan keadilan sosial.

FPI dan MMI tak akan mampu menghimpun massa begitu banyak. Penyebutan FPI di karenakan ada Rizieq Syihab dan Munarman. Sedangkan MMI di karenakan ada Muhammad Al Khatthath. Tapi Al Khatthath bukanlah figur dominan di gerakan itu. Yang lebih dominan yaitu Bachtiar Nasir dan M Zaitun Rasmin serta jaringan ustaz muda. Keduanya jelas bukan FPI dan MMI. di karenakan itu, bila hanya FPI dan MMI maka paling banter mereka hanya mampu mengerahkan Anemia dari sepuluh ribu orang. Lalu mengapa Bisa hadir begitu banyak? Pemimpin itu seperti seorang sales marketing. bila Bisa membuat produk yang diterima Generik, dipasarkan dengan tips yang tepat, dikemas dengan bagus, dan mempunyai jaringan pemasaran yang bagus maka produk itu akan laris di pasar.

Kesimpulan dua petinggi itu sebenarnya tak melulu mewakili Etos pemerintah. di karenakan ada satu petinggi lain yang mencoba menetralisir dengan tips yang sangat halus. Intinya dia mengatakan bahwa supaya proporsional dalam menangkap kejadian tersebut supaya hingga di kesimpulan yang objektif. Namun Etos dua petinggi itu tampaknya yang akan dioperasionalkan menjadi tindakan-tindakan pemerintah. Walau aksi 212 diikuti oleh massa yang lebih banyak dan lebih damai dibandingkan dengan aksi 411, sebetulnya upaya penetrasi pemerintah ke ormas-ormas Islam utama dan ke tokoh-tokoh Islam utama relatif sukses. di karenakan itu aksi 212 tak diikuti oleh unsur yang lebih banyak dibandingkan dengan aksi 411.

Pernyataan dua petinggi tersebut merupakan kelanjutan belaka dari ‘keberhasilan’ mensortir pihak-pihak di aksi 212. Dengan tips itu maka diharapkan gerakan ini akan mengecil dan menyisakan FPI dan MMI. Akhirnya kesimpulan bahwa 411 dan 212 sebagai wake up call radikalisme mendapatkan legitimasinya. Kesimpulan ini sebetulnya sangat mirip dengan suara-suara netizen yang sejak awal mencoba menghadang gerakan GNPF MUI di Global maya. Namun upaya itu gagal. Global maya dikalahkan oleh Global nyata. Penyangkalan di Empiris cyber berhenti di hadapan Empiris sosial. Upaya mengakomodasi elite dianggap angin lalu oleh akar rumput. Gerakan 411 dan 212 bukan semata soal Ahok, tapi ada perasaan Generik ketidakpuasan publik. Inilah energi yang sesungguhnya. Ada perubahan sosial yang menuntut perubahan ekonomi dan politik.

Namun, apapun, upaya penyortiran dan penyisiran yang diikuti stigmatisasi dan politik Perkataan-Perkataan lainnya menghadirkan satu pertanyaan, apakah gerakan 411 dan 212 itu akan punah?

Mari kita lihat fakta-fakta ini. Penangkapan banyak orang yang diduga terlibat penggerebekan suatu kafe di Solo. Pengaduan dugaan penistaan agama terhadap Rizieq Syihab. Respons aparat terhadap akun sosmed yang menyebutkan Donasi suatu Forum Manusia dari Indonesia yang diduga ditujukan ke pemberontak Suriah – Forum Manusia itu disebut-sebut dipimpin oleh Bachtiar Nasir. Rumor penghadangan terhadap Rizieq yang akan ke Medan. Inspeksi pemilik bus yang membawa rombongan aksi 212. dengan cara simetris juga ada fenomena rutin tahunan setiap menjelang Natal: penangkapan terduga teroris. Berita seperti ini yang bertubi-tubi Bisa membangun persepsi Eksklusif. Bisa melumerkan ataupun Bisa makin mengkristalkan keadaan.

di Hepotenusa lain, eksponen 411 dan 212 juga memelihara stamina publik dengan mengadakan roadshow ke berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan di kubu sebelah makin jelas terlihat bisik-bisik melawan gerakan 411 dan 212 dengan Perkataan-Perkataan “at all costs” akan dihadapi. Dua pihak sudah on fire. Kita berharap tak terjadi ‘Tragedi Priok Jilid II’. Tragedi 1984 itu juga diawali ketidakpuasan santri terhadap keadaan. Lalu dihadapi dengan stigmatisasi “ekstrem kanan”. Hal itu tak membuat surut namun justru makin mengeras dan berujung di tragedi berdarah.

Menyebut tragedi 32 tahun lalu bukan hendak menakut-nakuti apalagi memanas-manasi. Tapi justru kita wajib belajar dari sejarah. bila tak ada upaya Eksklusif maka arus sosial itu mengalir dengan cara begitu aja. Arus sosial itu seperti api dalam sekam, seperti magma di perut gunung: Hayati menghimpun energi. Seperti Perkataan Iwan Simatupang, sastrawan: tak ada masyarakat yang diam.

 

 

Diam Bagai Gunung Berapi (‘Revolusi’ Putih 7)

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *