HIKAM ATHAILLAH KE 32 SYARAH KH. M.Luqman Hakim, Ph. D : AIB DIRI DAN RAHASIA GHAIB



SYARAH KH. M. Luqman Hakim, Ph. D. 

Menurut Kalam Hikmah ke 32 Al-Arifbillah Syeikh Ahmad Ibnu Athaillah As kandary:
“Keinginan dan hasrat memandang di aib diri kita itu lebih bagus daripada  hasrat kita terhadap rahasia kegaiban yang ada di balik tirai.”

Aib, merupakan wujud dari kekurangan yang ada di diri kita, bagus kekurangan yang bersifat individual, kekurangan yang bersifat sosial ataupun kekurangan yang bersifat vertikal, yang Herbi erat dengan pelanggaran kita di Anggaran Ilahi, lahir ataupun batin, syariat ataupun hakikat.

Manusia memang lebih suka memburu Global ghaib, mencari rahasia alam samawat, mencari keistimewaan-keistimewaan yang di luar jangkauan nalar akali.
Aib itulah yang senantiasa menempel di tindakan praktek amaliah, akhlak atau dalam adab antara sesama hamba dan Allah. di karenakan itu Aib terbagi dua: Pertama, aib yang bersifat lahiriah (nyata), dan kedua, aib yang bersifat batiniah (tersembunyi). Soal aib yang nyata bersifat fisik sangat mudah menghilangkan. akan tetapi aib tersembunyi dalam hati kita itu sangat sulit melihatnya. Misalnya dalam gerak-gerik hati kita, seperti i’timad di amal, atau bergantung di amal, klaim terhadap apa yang dilakukan hamba sebagai perbuatan hamba, dan soal tazkiyah (pembersihan) Heroisme.
Aib batin itulah yang mesti kita intropeksi supaya kita selamat dalam Interaksi kejiwaan kita dengan Allah SWT. di karenakan itu nilainya lebih tinggi ketimbang hasrat kita untuk membuka tirai kegaiban di balik alam nyata ini.

Perkataan-Perkataan Ibnu Athaillah as-Sakandari di atas menunjukkan bahwa manusia memang lebih suka memburu Global ghaib, mencari rahasia alam samawat, mencari keistimewaan-keistimewaan yang di luar jangkauan nalar akali. di saat yang sama ia juga lupa, bahwa dirinya sesungguhnya penuh dengan aib yang tak tampak.
Oleh sebab itu beliau memperingatkan supaya kita memprioritaskan intropeksi atas aib-aib batin kita, ketimbang mencari sesuatu yang cemerlang di balik kegaiban ini.
Banyak sekali aib yang tersembunyi dalam diri kita, dan Al-Ghazali dengan cara gamblang mengklasifikasikan aib batin kita dalam sistematika Al-Aklaq al-Madzmumat (akhlak-akhlak batin yang tercela). Antara lain, Riya’, Takabur, Iri, Dengki, menuruti syahwat, menuruti Perkataan hawa nafsu, kealpaan hati kita untuk mengingat Allah, ambisi duniawi, suka dipuja dan dipuji, takjub diri sendiri, dan sebagainya.

Dalam konteks Al-Hikam ini, Ibnu Athaillah mengingatkan betapa seringnya kita mencampuri urusan Allah di balik ikhtiar dan ibadah kita, dan itulah bentuk lain dari aib diri kita.  di saat yang sama kita juga sering terjebak oleh ghurur-nya alam semesta, yaitu saat kita memandang alam semesta ciptaan Allah, kita hanya terpesona keindahannya, bukan melihat Asma’, Af’al, dan Sifat Allah dibalik alam itu. Sehingga hati kita Dehidrasi Cahaya Ilahi di balik fenomena alam semesta raya ini.

setelah itu soal keghaiban, juga terbagi dua

Ada keghaiban yang bersifat empirik (inderawi).
Ada juga keghaiban yang bersifat maknawi (spiritual).
Ghaib yang bersifat fisik merupakan kandungan ilmiah dan rahasia pengetahuan di balik alam fisika raya ini. Sedangkan ghaib dengan cara  maknawi merupakan pencarian terhadap rahasia spiritual yang tersembunyi dibalik olah batin kita.
akan tetapi hawa nafsu kita mempunyai kecenderungan memburu hal-hal ghaib dan melupakan kondisi obyektif aib-aib kita. Lalu mengapa intropeksi terhadap aib diri wajib diprioritaskan? 

Menurut Syeikh Zaruq, di karenakan tiga alasan:
“Jadikan dirimu pencari istiqomah, dan janganlah dirimu menjadi pencari karomah.”

Pertama, sibuk mengurus aib diri kita akan mendorong diri untuk meraih kesempurnaan Heroisme, sementara meraih hal-hal yang ghaib malah menjerumuskan kita (di kesesatan).
Kedua, instropeksi aib diri sendiri merupakan kewajiban moral kita, sedangkan memburu rahasia keghaiban  terkadang Bisa menyesatkan kita.
Ketiga, instropeksi terhadap aib diri sendiri merupakan Aplikasi atas Copyright Ketuhanan untuk kehambaan kita, sedangkan memburu keghaiban justru malah mengabaikan Copyright ubudiyah dan kehambaan kita.
di karenakan itu para sufi menegaskan:
“Jadikan dirimu pencari istiqomah, dan janganlah dirimu menjadi pencari karomah. Sebab nafsumu akan melipat dirimu saat mencari karomah, padahal Tuhanmu menuntut istiqomahmu. Hendaknya dirimu memprioritaskan Copyright Ilahiyah ketimbang Copyright nafsu diri kita.”

HIJAB ITU kita            

Mengapa aib ini wajib diprioritaskan? Sebab aib diri kita justru menjadi hijab utama  yang menghalangi diri kita saat diri hendak memandang Allah. “Diri” itulah yang sesungguhnya menjadi faktor penghalang (hijab) antara Allah  dan hamba. Padahal Allah itu hakikatnya tak Bisa dihijabi, dihalangi, ditutupi atau di tirai oleh apa pun atau  siapa pun. Dan karenanya, Ibnu Athaillah melanjutkan hikmahnya:
“Allah itu tak terhijab. Yang terhijab merupakan “kita” untuk memandang kepadaNya”.
Allah itu tak Bisa terhijabi, di karenakan bila ada penghijab yang menutupi Allah, pasti penghijab itu lebih besar dan lebih luas dibanding Allah. Padahal Allah Ta’ala itu Maha Besar.  Sedangkan diri kita justru menjadi hijab, itu jelas sekali, di karenakan diri kita hakikatnya merupakan aib-aib yang bergumpal.
Hijab itu terbagi pula menjadi dua: Hijab Mata Kepala dan Hijab Mata Hati.
Hijab Mata Kepala, sudah jelas, yaitu kelemahan-kelemahan asli kita dan kefanaan (ketiadaan) kita.

Sedangkan Hijab Mata Hati kita seperti dalam kitab Lathaiful Minan, merupakan wujud aib kita sendiri. Menyucikan kotoran aib itu Bisa membuka mata keghaiban kita. di karenakan itu kita jangan masuk dalam kategori orang yang menuntut Allah demi diri kita, akan tetapi jadilah orang yang menuntut diri sendiri demi Allah Ta’ala.
Orang yang menuntut Allah untuk dirinya, ia akan mandeg (berhenti) sebagai orang beriman yang meraih kesempurnaan. Ia justru akan menikmati “kemandegan” itu, dan akhirnya tak meraih kesempurnaan.
Lalu dilanjutkan:

“bila Allah dihijab oleh sesuatu, pasti sesuatu itu menutupi Allah. Kalau Allah punya pembatas tutup, pasti Allah itu terbatas. Sedangkan setiap pembatas  itu pasti punya sifat pemaksa di yang dibatasi. Padahal Allah Maha Pemaksa atas segala sesuatu.”
Allah Maha Besar, Maha Agung, Maha Luas, Maha Memaksa, Maha Tak Terhingga, Maha Tinggi, dan tak satu pun yang menyamai apalagi melampauinya. bila itu ada pasti menutupi Allah, dan Allah menjadi terbatas. bila terbatas pasti bukan Allah.
Allah Maha Jelas, Maha Nyata dan Maha Dekat, Maha Dzahir dan Maha Batin.

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *