Hukum I’tikaf untuk Perempuan

SEPULUH hari terakhir bulan Ramadhan di depan mata, kaum Muslim tak ingin melewatkan Ramadhan kali ini begitu aja. Mendapatkan lailatul qodar sangat diidamkan, bagus itu untuk kaum Adam ataupun Hawa. Banyak tips dilakukan, termasuk menjalankan sunnah Rasulullah SAW, i’tikaf.

untuk laki-laki, tentunya sangat diperbolehkan untuk beri’tikaf di masjid, sedangkan untuk perempuan? Apakah diperbolehkan I’tikaf di masjid? Atau cukup beribadah di rumah aja?

dengan cara harfiah, i’tikaf merupakan lazima (terikat) dan habasa an-nafsa ‘alayh (menahan diri di), sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran,

“Merekalah orang-orang kafir yang menghalangi kita dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi Fauna korban hingga ke tempat (penyembelihan)-nya.” (QS. al-Fath: 25).

BACA JUGA: Tiga Golongan Muslim di Bulan Ramadhan

Adapun dengan cara syar’ii’tikaf merupakan berdiam diri di masjid dalam waktu Eksklusif dengan ciri-ciri Eksklusif disertai dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Perkataan i’tikaf, jiwar (diam) atau mujawarah (mendiami) masjid mempunyai konotasi yang sama. Dalam suatu hadis dari ‘Aisyah ra. berkata: “Rasulullah saw menjalankan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan bersabda, “Carilah Lailatul Qadar di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Hukum i’tikaf merupakan sunnah berdasarkan sunnah fi’liyyah Nabi saw., yang dituturkan oleh ‘Aisyah ra.: “Sesungguhnya Nabi saw. telah menjalankan i’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah SWT mewafatkan beliau, setelah itu istri-istri beliau pun menjalankan i’tikaf sepeninggal beliau.” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad)

Ini membuktikan, bahwa wanita boleh i’tikaf, tentu dengan tempat yang terpisah dari kaum pria; bila perempuan tersebut menjalankan i’tikaf  bersama-sama suaminya. bila tak, maka dia wajib meminta izin suaminya. Suami juga boleh mengizinkan, boleh juga tak. di karenakani’tikaf  ini hukumnya sunnah. Kalau aja hukumnya wajib untuk wanita tersebut, maka suaminya tak boleh melarang dia.

Jumhur ulama dari kalangan Madzhab Hanafi, Maliki, syafi’i, Hambali, dan lainnya  berpandangan bahwa kaum perempuan seperti laki-laki, tak Absah i’tikafnya kecuali di masjid. Maka tak Absah i’tikaf yang dilaksanakannya di masjid rumahnya.

Pendapat ini berbeda dengan yang dipahami madzhab Hambali, mereka berkata, “Absah i’tikaf seorang wanita yang dilaksanakan di masjid rumahnya.” Sedangkan pendapat jumhur jelas lebih benar, di karenakan di dasarnya laki-laki dan wanita sama dalam hukum kecuali ada dalil yang menghususkannya.

di karenakan itu disyariatkan untuk wanita yang akan beri’tikaf untuk melaksanakannya di masjid-masjid. Namun wajib diketahui, untuk wanita yang mempunyai suami tak boleh beri’tikaf kecuali dengan izin suaminya menurut pendapat jumhur ulama. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Dari Abu Hurairah ra., Janganlah seorang wanita berpuasa sementara suaminya ada bersamanya, kecuali dengan seizinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026).

Apabila dalam urusan puasa aja seperti ini maka dalam i’tikaf jauh lebih (ditekankan untuk mendapat izin dari suaminya), di karenakan Copyright-Copyright suaminya yang akan terabaikan jauh lebih banyak.

Begitu juga wajib diingatkan, bahwa apabila kondisi diamnya seorang wanita di masjid tak terjamin keamanannya, seperti keberadaannya di situ membahayakan untuk dirinya atau akan menjadi tontonan, maka ia tak boleh beri’tikaf.

BACA JUGA: Adab Itikaf di Malam Ramadhan yang wajib Diketahui

di karenakan itulah para fuqaha’ menganjurkan untuk wanita apabila beri’tikaf supaya menutup diri dengan kemah dan semisalnya berdasarkan perbuatan Aisyah, Hafshah, Zainab di masa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Diterangkan dalam Shahih Al-Bukhari (2033) dan Muslim (1173) dari jalur Yahya bin Sa’id bin Amrah, dari Aisyah, “Bahwasanya Nabi saw., hendak beri’tikaf. Maka saat beliau beranjak ke tempat yang hendak dijadikan beri’tikaf di sana sudah ada beberapa kemah, yaitu kemah Aisyah, kemah Hafshah, dan kemah Zainab.

Semua itu menunjukkan bahwa disyariatkan mengadakan Epilog (satir) untuk wanita yang beri’tikaf dengan tenda (kemah) dan semisalnya. Wallahu Ta’ala a’lam. []

 

Hukum I’tikaf untuk Perempuan

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *