Hukum Wanita Karier & Tampil Di Muka Generik Dalam Islam

Di era dengan lajunya informasi dan teknologi serta peradaban
, kemampuan wanita kian Bisa di sejajarkan dengan kaum pria dalam bidang-bidang Eksklusif. Dalam Islam tentu hal ini menjadi permasalahan tersendiri.

Hukum Wanita Karier & Tampil Di Muka Generik Dalam Islam

Sebagai muslim ada koridor-koridor Eksklusif yang mesti di patuhi. Masalah wanita karier memang jadi bahan pertentangan antara pendukung dan penentangnya.

Yang mendukung tentu datang dengan sejumlah dalil serta argumentasi. Dan yang menentangnya pun tak kalah kuat dalil serta argumennya.

Pendapat Yang Mendukung Wanita Karier

1. Khadidjah ra. merupakan Seorang Pebisnis

Khadijah ra merupakan seorang istri yang tak hanya berdiam diri serta bersembunyi di dalam kamarnya. Sebaliknya, dia merupakan seorang wanita yang aktif dalam Global bisnis. Bahkan sebelum Rasulullah menikahinya, beliau pernah menjalin kerjasama bisnis ke negeri Syam. Setelah menikahinya dan mempunyai anak, tak berarti istrinya itu berhenti dari aktifitasnya.

Bahkan harta hasil jerih payah bisnis Khadijah ra itu amat banyak menunjang dakwah di masa awal. Di masa itu, belum ada sumber-sumber dana penunjang dakwah yang Bisa diandalkan. Satu-satunya merupakan dari kocek seorang donatur setia yaitu istrinya yang pebisnis kondang.

Sebagai seorang pebisnis, sosok Khadijah merupakan bukan tipe wanita rumahan yang tak tahu Global luar. Sebab apabila demikian, bagaimana dia Bisa menjalankan bisnisnya itu dengan bagus, dan sementara itu rumah tangga beliau pun Bisa dikendalikan dengan bagus.

2. Aisyah ra. Tokoh Masyarakat dan Empati Perang Jamal

Aisyah ra, seorang wanita cerdas, muda dan cantik yang kiprahnya di tengah masyarakat tak diragukan lagi. Posisinya sebagai seorang istri tak menghalanginya dari aktif di tengah masyarakat.

Semasa Rasulullah masih Hayati, beliau sering kali Empati keluar Madinah Empati berbagai operasi peperangan. Dan sepeninggal Rasulullah SAW, Aisyah merupakan guru dari para shahabat yang mampu membagikan Elaborasi dan keterangan mengenai ajaran Islam.

Bahkan Aisyah ra. pun tak mau ketinggalan untuk Empati dalam peperangan. Sehingga perang itu disebut dengan perang unta, di karenakan saat itu Aisyah ra. naik seekor unta.

3. Wanita punya Copyright untuk mempunyai harta sendiri

Dalam Islam mengakui Copyright milik seroang wanita atas hartanya. Dari hukum waris, ada pengakuan bahwa wanita berhak mewarisi harta dari orang tua, kakak, suami atau anaknya. Dan saat dinikahi, haruslah diberikan mahar atau harta sebagai Asterik kehalalannya. Mahar ini untuk selanjutnya menjadi Copyright milik pribadi wanita tersebut. Suaminya tak punya Copyright atas pemberiannya itu. Maka wanita bebas mencari harta untuk dirinya, bukan sebagai kewajiban melainkan sebagai kebolehan atau Copyright pribadinya. tak ada seorang pun yang berhak untuk menghalangi wanita untuk mendapatkan harta untuk dirinya sendiri.

4. Para Wanita Di Masa Rasulullah Keluar Rumah

Para wanita di masa Rasulullah SAW tak dikurung di dalam rumah, tak ada suatu riwayatpun yang menyebutkan hal itu. Sebaliknya, para wanita shahabiyah diriwayatkan banyak sekali menjalankan aktifitas di luar rumah. bagus untuk urusan dagang, dakwah, silaturrahim, rekreasi bahkan perang sekalipun.

Yang paling jelas dan tak mungkin ditolak merupakan keluarnya para wanita ke masjid. Sesuatu yang pernah ingin dilarang oleh pihak Eksklusif, namun tetap diberikan Copyright oleh Rasulullah SAW. Sehingga shalat jamaah di masjid di masa Rasulullah SAW tetap dihadiri oleh jamaah wanita. Maka mereka akan mendapat pahala shalat jamaah sebagaimana laki-laki meskipun apabila tak dilakukannya tak menjadi masalah. Bahkan Rasulullah menyediakan Eksklusif waktu dimana beliau mengajar para wanita. Para wanita shahabiyah keluar rumah dan berkumpul untuk belajar dari Rasulullah SAW.

Sedangkan di  dua hari raya Islam yaitu:
‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha, para wanita dianjurkan untuk hadir di tempat shalat (mushalla) meskipun mereka sedang mendapat haidh. Berkumpul bersama dengan para laki-laki untuk mendengarkan khutbah dan menghadiri shalat ‘Ied.

Pendapat Yang Menolak Wanita Bekerja

Sedangkan mereka yang cenderung menolak kebolehan wanita bekerja di luar rumah, juga punya dalil dan argumen yang tak Bisa disepelekan. Diantaranya merupakan :

1. Dalil Al-Quran

Allah SWT telah berfirman mengenai keharusan wanita menetap di dalam rumah, tak untuk keluar bepergian kesana kemari, mengisi tempat-tempat pekerjaan laki-laki, serta menjadi penghibur nafsu syahwat mereka.
“Dan hendaklah kita (para wanita) tetap di rumahmu dan janganlah kita berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kita, hai ahlul bait dan membersihkan kita sebersih-bersihnya.” (QS. Al-ahzab : 33)

2. Hadits Rasulullah SAW.

Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa wanita itu tak boleh keluar rumah, sebab akan menjadi fitnah.
Diriwayatkan oleh At-Tirmizy marfu`an bahwa,
“Wanita itu merupakan aurat, apabila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya”.

Menurut At-turmuzi hadis ini kedudukannya hasan shahih. Dan dengan cara jelas disebutkan bahwa saat seorang wanita keluar rumah, maka syetan akan menaikinya dan akan menjadi sumber masalah bagus untuk dirinya ataupun untuk orang lain.

3. Jangan Bandingkan Kondisi Di Zaman Rasulullah Dengan Zaman Sekarang

Mereka juga menganggap hampir semua dalil yang menceritakan mengenai keluarnya para wanita di masa Rasululah menjadi tak relevan di masa sekarang ini. Sebab kondisi sosialnya sudah jauh berbeda. Para shahabat yang tinggal di Madinah merupakan orang-orang yang suci, Higienis dan sangat menjaga diri dari fitnah. Demikian juga dengan hukum yang berlaku merupakan hukum Islam, dimana hampir tak ada celah sedikitpun untuk Bisa terjadinya penyelewengan. Maka dalam kondisi yang sedemikan bagus itu, bolehlah para wanita keluar rumah tanpa khawatir terjadi hal yang tak diinginkan.

Sedangkan yang terjadi sekarang ini justru sebaliknya. Begitu banyak kemaksiatan dan godaan yang meraja lela digelar di tengah kita. Maka untuk masa sekarang ini, membiarkan wanita keluar rumah dan bercampur
dengan laki-laki lebih beresiko dan menjadi sumber kerusakan umat. Maka sudah selayaknya wanita muslimah yang bagus tak keluar rumah dan merusak kesucian dirinya dengan kerusakan zaman. Apalagi berjejalan di kendaraan dengan laki-laki asing, berhimpitan dan bertumpang tindih satu sama lain tanpa batas.

Dengan memperhatikan dua kutub ini, maka kita wajib mengambil jalan tengah, antara yang mengharamkan keluarnya wanita dengan yang menghalalkan. Paling tak kita mengerti mengapa seseorang mengharamkan atau menghalalkan. Sehingga kita tak terjebak dengan Disorientasi satu dari dua sikap ekstrem yang Lebih.

II. Mengapa Wanita Barat Bekerja Di Luar Rumah ?

Wahbi Sulaiman Ghawaji dalam bukunya Al-Mar’ah Al-Muslimah menyebutkan latar belakang yang mendukung mengapa para wanita di Barat cenderung untuk bekerja ke luar rumah. Diantaranya beliau menyebutkan :

1. Budaya di sana merupakan bahwa orang tua tak memberi nafkah kepada anak mereka hingga batas usia Eksklusif. Terutama apabila sudah berusia 18 tahun, maka semua nafkah dan uang pemberian terputus sama sekali. Bahkan sekedar untuk menumpang tinggal di rumah orang tua pun sering wajib membayar uang Eksklusif. Bahkan membayar biaya mencuci bayu dan menyetrikanya. Maka wajarlah para wanita terpaksa wajib bekerja apa aja dan hal itu sudah ditanamkan sejak kecil. Sebab dia tetap wajib menyambung hidupnya saat masih remaja.

2. Orang Barat mewarisi budaya hedonis dan rancu mengenai wanita. Mereka terbiasa menjadikan wanita sebagai alat dan objek, bukan sebagai manusia yang punya Heroisme dan Insting. Maka pemandangan sehari-hari di barat merupakan wanita yang dijadikan asset perdagangan bagus dengan cara langsung atau tak langsung. Pertama : wanita dijadikan tenaga kerja, sebab upahnya lebih murah dibandingkan upah laki-laki. Kedua : wanita dijadikan media promosi yang muncul hampir di semua iklan dan Global advertising. Ketiga : wanita dijadikan objek promosi dan calon konsumen yang paling royal menghamburkan uang. Maka pemandangan wanita keluar rumah dan bekerja dalam bidang apa aja tanpa batas sudah menjadi tuntuan kehidupan sosial di sana.

3. Orang-orang di Barat Hayati dengan mengikuti Insting dan insting mereka. Atau bahasa yang lebih tepatnya merupakan mengikuti hawa nafsunya aja. Kemana hawa nafsunya membawa, kesanalah mereka akan berjalan. Dan daya tarik wanita merupakan tema yang paling menarik hawa nafsu. Maka wajarlah Insting mereka mengatakan bahwa seharusnya wanita ada di berbagai tempat. Di kantor, sekolah, bengkel,  pompa bensin hingga di tempat yang dengan cara Eksklusif dibuat untuk membagikan pelayanan wanita dengan cara seksual (rumah bordil).

Maka tak ada satupun wilayah dan bidang kehidupan di Barat yang tak diisi oleh para wanita. Dan keluarnya para wanita ke berbagai tempat yang tak cocok dengan Heroisme mereka sekalipun sudah menjadi hal yang tak Bisa dihindari lagi. Mereka tak pernah mampu membedakan hakikat laki-laki dan wanita serta bidang wilayah pekerjaannya. Bahkan cenderung menganggap kedua jenis kelamin itu sama aja. Padahal dengan cara pisik pun keduanya sudah berbeda. Wanita punya rahim sebagai wahana reproduksi yang tak dimiliki oleh laki-laki. Wanita punya masa menstruasi yang tak akan pernah dialami laki-laki. Disparitas pisik ini tentu bukan tak ada artinya. Justru dengan mengamati Disparitas pisik ini yang berlaku di semua jenis ras manusia, kita tahu bahwa ada jenis fungsi dan peran yang seharusnya juga berbeda. Dan apabila Disorientasi dalam meletakkan fungsi dan peran itu, maka akan terjadi ketidak-seimbangan. Maka wajar pula apabila ada banyak hal yang berantakan apabila terjadi Disorientasi peletakan fungsi.

III. Adab Wanita Untuk Keluar Rumah dan Tampil Di Muka Generik

Kalaulah ada pihak yang membagikan sedikit kebebasan untuk wanita untuk keluar dan bekerja di luar rumah, maka tetaplah wajib dengan memperhatikan dan menjaga batas-batas atau adab Islam, yaitu tak ikhtilath (berbaur antara lelaki dan perempuan), tak membuka aurat, tak kholwah (berdua dengan lelaki) dan terhindar dari fitnah.

Dalam kondisi normal, yang seharusnya tampil didepan Generik yang terdiri dari kaum lelaki dan kaum wanita merupakan orang laki-laki. Dalam kondisi Eksklusif, yakni adanya kebutuhan obyektif bagus dalam sekala Generik atau dalam ruang lingkup Eksklusif dan tak ada yang Bisa melakukannya selain wanita yang bersangkutan, ia boleh tampil didepan Generik untuk menyampaikan da’wah atau membagikan pelajaran dengan memperhatian ketentuan-ketentuan Islam, yaitu:

1. Mengenakan Pakaian yang Menutup Aurat

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-oarang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”

2. tak Tabarruj atau Memamerkan Perhiasan dan Kecantikan

“Janganlah memamerkan perhiasan seperti orang jahiliyah yang pertama” (QS Al Ahzaab 33)

3. tak Melunakkan, Memerdukan atau Mendesahkan Suara

“Janganlah kita tunduk dalam berbicara (melunakkan dan memerdukan suara atau sikap yang Sesuai) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang bagus.” (QS Al Ahzaab 32).

4. Menjaga Etos.
“Katakanlah di orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu merupakan lebih suci untuk mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya……..”(QS An Nuur 30-31)

5. Aman dari Fitnah .

Hal ini sudah merupakan ijma’ ulama.

6. Mendapatkan Izin Dari Orang Tua atau Suaminya

Ini merupakan yang paling sering luput dari perhatian para muslimah terutama aktifis dakwah. Sebab sekali mereka Empati terjun dalam Global aktifitas rutinitas, maka seolah-olah izin dari pihak orang tua ataupun suami menjadi hal yang terlupakan. Padahal izin merupakan hal yang wajib didapatkan dan tak Bisa disepelekan begitu aja.

Di sinilah sebenarnya masalah itu berpangkal. apabila wanita itu melihat atau menangkap adanya gejala yang demikian, yaitu ada kecendrungan jadi bahan`tontonan` laki-laki, misalnya dengan rebutan duduk di depan, maka Bisa aja disiasati dengan membuat kursi-kursinya agak jauh dari meja dosen. Atau barangkali meminta supaya dilakukan rolling tempat duduk supaya mereka tak selalu duduk di depan. Atau Bisa juga mahasiswa laki-laki dan wanita di tempatkan terpisah disebelaha kanan dan kiri, lalu dosen wanita itu duduk di bagian mahasiswa wanita.

Jadi sebenarnya tergantung dari bagaimana kemampuan seorang wanita (akhwat) dalam mengatur semua syarat ini.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber : akhwatmuslimah.com

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *