Indonesia-Malaysia Jajaki Kerja sama Kajian Manuskrip Asia Tenggara

Kajian manuskrip, khususnya manuskrip keagamaan, dinilai penting untuk dilakukan bersama-sama. “Apalagi kita satu rumpun. Ini di hari depan akan jadi peninggalan untuk anak cucu kita.”

Indonesia-Malaysia Jajaki Kerja sama Kajian Manuskrip Asia Tenggara

kemenag

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kanan) menerima kunjungan Menteri Pendidikan Malaysia Maszlee bin Malik, di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (10/01/2019).

ceramah.xyz– Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerima kunjungan Menteri Pendidikan Malaysia Maszlee bin Malik, di Kantor Kementerian Agama RI (Kemenag), Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menjajaki beberapa kerja sama yang Bisa dilakukan terkait pendidikan agama, Disorientasi satunya mengenai kajian manuskrip Asia Tenggara.

“Kami di Kemenag sejak beberapa tahun terakhir fokus menjalankan kajian manuskrip. Ke depan kami ingin membangun Pusat Manuskrip Nusantara,” ujar Menag, Kamis (10/01/2019) lansir Kemenag.

Turut mendampingi Menag, Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi Oman Fathurahman, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Arskal Salim, dan Kepala Biro Hukum dan Interaksi Luar Negeri Gunaryo.

Menurut Menag, kajian manuskrip Nusantara menjadi perhatian Kemenag di karenakan banyak khazanah keilmuan yang ada dan tersebar di dalamnya belum tergali dan terinventarisir dengan bagus. “Padahal khazanah-khazanah yang ada dalam manuskrip kita sangat kaya,” lanjutnya.

Menanggapi hal tersebut, Maszlee menceritakan bahwa di Malaysia telah dikembangkan digitalisasi manuskrip. “Kita banyak koleksi digital. bila diperlukan, kami Bisa membantu untuk digitalizing manuscript,” ujar Maszlee.

Ia mengapresiasi Kemenag yang telah membagikan perhatian di manuskrip Nusantara. Maszlee juga menuturkan kajian manuskrip yang ada di Malaysia juga mencakup beberapa manuskrip yang tersebar di Asia Tenggara.

“Ada yang dari Mindanao misalnya. Manuskrip yang ada  di Asia Tenggara sebenarnya tak kalah dengan yang ada di Arab Saudi,dan sebagainya,” ujar Maszlee yang mengaku mempunyai nenek moyang berdarah Bugis, Sulawesi Selatan.

Ia menambahkan, kajian manuskrip, khususnya manuskrip keagamaan, penting untuk dilakukan bersama-sama. “Apalagi kita satu rumpun. Ini di hari depan akan jadi peninggalan untuk anak cucu kita,” tuturnya.

Sementara Staf Ahli Menteri Oman Fathurahman yang turut hadir mendampingi Menag menyambut bagus apabila Indonesia dan Malaysia Bisa membangun kerja sama di bidang kajian manuskrip.

Ia menuturkan bahwa Malaysia sangat maju di bidang sains dan kedokteran. Di saat yang sama, kajian manuskripnya pun sangat bagus. “Ada manuskrip Nusantara karya Nurudin Ar Raniry, ulama asal Aceh ternyata telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh seorang profesor di Malaysia,” cerita Oman yang juga merupakan filolog.

Namun sayangnya, menurut Oman, karya terjemahan manuskrip Nurudin Ar Raniry tersebut cukup mahal di karenakan wajib dibeli dalam mata uang Ringgit.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Malaysia menawarkan apakah memungkinkan universitas-universitas di Malaysia membuka cabang di Indonesia, khususnya di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). apabila memungkinkan demikian, mahasiswa Indonesia yang ingin belajar di Malaysia tak wajib pergi ke Malaysia.

“Cukup di Indonesia, akan tetapi memakai kurikulum, tenaga pengajar dan metode pengajaran dari Malaysia. Termasuk Disorientasi satunya kajian manuskrip. Buku pun Bisa dicetak di Indonesia. Ini tentu lebih ekonomis,” urainya.

Menanggapi hal tersebut, Menag mengaku akan mengkaji usulan tersebut. “Ini usulan menarik, kami akan coba dalami. di karenakan ini terkait juga dengan Forum lain seperti Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” sahut Menag.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Indonesia-Malaysia Jajaki Kerja sama Kajian Manuskrip Asia Tenggara

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *