Ketik Rasulullah Jelaskan Tiga Kalimat Terakhir Sahabat yang sedang Sakaratul Maut

tiga kalimat terakhir

RASULULLAH mempunyai kebiasaan rutin. Hari itu, ada Disorientasi seorangnya yang meninggal Global. Seperti biasanya, saat ada Disorientasi seorang sahabatnya meninggal Global, beliau pasti akan menyempatkan diri untuk mengantarkan jenazahnya hingga ke kuburan. tak cukup hingga di situ, di saat pulangnya, disempatkannya pula singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

saat hingga di rumah almarhum, Rasulullah bertanya kepada istrinya, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”

Istrinya yang masih diliputi kesedihan hanya tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. saat itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”

BACA JUGA: Rasulullah Amat Benci dengan Jenis Orang Ini

Rasulullah mangut-mangut. “Apa yang dikatakannya gerangan?”

“Aku tak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tak mengerti apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih di karenakan dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah.

Istri yang setia itu menjawab, sambil masih terisak. “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi…. Andaikata yang masih baru… Andaikata semuanya….’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tak sadar, ataukah pesan-pesan yang tak selesai….”

Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. setelah itu, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tak Galat,” ujarnya. Beliau menerawang sejenak. “bila kalian semua mau tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian supaya tak lagi heran dan bingung.”

Sekarang, bukan hanya istri almarhum aja yang menghadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum merubungi rasul akhir jaman itu. Ingin mendengar apa gerangan sebenarnya yang terjadi.

“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai. “di suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan dengan orang buta yang bertujuan sama—hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk di karenakan tak ada yang menuntunnya. Maka, dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia menyaksikan pahala amal salehnya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksudnya yaitu andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya akan jauh lebih besar pula.”
Semua keluarga sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai mengerti sebagian duduk perkara. “Terus, ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” tanya sang istri yang semakin penasaran aja.

Nabi menarik nafas sejenak. setelah itu menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab di hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk shalat Subuh, cuaca dingin sekali. Di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa suatu mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia pun mencopot mantelnya yang lama yang tengah dikenakannya dan diberikan kepada si lelaki tua itu. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama yang kuberikan kepadanya, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suami selengkapnya.”

BACA JUGA: Ini yang Sebabkan Malaikat Jibril Tahan Punggung Rasulullah dari Ruku Shalat Subuh

“setelah itu, ucapan yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?” tanya sang istri lagi.
Dengan penuh kesabaran, Rasulullah jelaskan, “Ingatkah engkau saat di suatu waktu suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan Boga? saat itu engkau Genjah menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta Boga. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong. Yang sebelah diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian, di waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalnya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tak akan kuberi hanya separuh. Sebab, andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda pula.”

Sekarang, semua anggota keluarga mengerti. Mereka tak lagi risau dengan apa yang telah terjadi kepada suami dan ayah mereka saat menjelang wafatnya tempo hari. Kelapangan telah ia dapatkan di karenakan ia tak sungkan untuk menolong dan memberi. []

The post Ketik Rasulullah Jelaskan Tiga Kalimat Terakhir Sahabat yang sedang Sakaratul Maut appeared first on ceramah.xyz.

Ketik Rasulullah Jelaskan Tiga Kalimat Terakhir Sahabat yang sedang Sakaratul Maut

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *