KITAB AJARAN KAUM SUFI AL-KALABADZI : AJARAN KE 26 mengenai KEKUATAN GHAIB (KARAMAH) PARA WALI



Kitab Al-Ta-aruf li-Madzhabi Ahl Al-Tashawwuf
Karya  Ibn Abi Ishaq Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya’qub Al-Bukhari AL-KALABADZI
Mereka bersepakat dalam mengakui kekuatan-kekuatan gaib para wali, meski sejauh mengakui keajaiban seperti berjalan di atas air, bebicara dengan binatang, pergi dari satu tempat atau disaat lain daripada saat dan tempatnya berada. Semua contoh mengenai hal ini tercatata sebagaimana mestinya di dalam kisah-kisah dan hadis-hadis, dan juga dibicarakan dalam kitab suci. Misalnya cerita mengenai “orang yang mempunyai pengetahuan mengenai al-Kitab.” Yang mengatakan : “Saku sanggup membawanya kepadamu dalam sekejap mata!.” Dan cerita mengenai Maryam, saat Zakaria berkata kepadanya : “Hai Maryam! Dari mana engkau mendapatkan Boga ini? Maryam menjawab : “Dari Allah.” Juga cerita mengenai dua orang yang berada bersama Nabi. setelah itu pergi, lalu cambuk yang mereka bawa bersinar. Hal yang semacam itu Bisa terjadi di msa Nabi ataupun di masa-masa lain. di karenakan kekuata-kekuatan gaib itu diberikan di masa Nabi untuk menguji kebenaran (pernyataannya), maka, dengan alasan yang sama, kekuatan-kekutan gaib tersebutbisa juga terjadi di masa-masa lain. Setelah wafatnya Nabi, hal ini terjadi di Umar ibn Khattab, saat dia memanggil Sariyah dan berkata : “Wahai Sariyah ibn Hisn, Gunung itu! Gunung itu!, Umar di waktu itu sedang berkhutbah di mimbar dan Sariyah sedang mengahdapi musuh yang jauhnya sebulan perjalanan dari sana. Cerita ini terbukti benar. Orang-orang yang menyangkal pendapat ini beralasan bahwa, bila demikian, hal itu mengisyaratkan penghinaan terhadap fungsi nabi, sebab seorang nabi dibedakan dengan orang lain hanya oleh adanya fakta bahwa di mampu mendatangkan mukjizat yang membuktikan kebenaran sabda-sabdanya, yang tak Bisa dilakukan oleh orang-orang lain. Oleh di karenakan itu, bila kemampuan tersebut muncul dari diri orang lain, maka yang nabi dan yang bukan nabi tak akan ada bedanya lagi; atau, bukti kebenaran sabda-sabda nabi tak akan ada lagi. Lebih-lebih, hal itu akan mengisyaratkan bahwa Tuhan tak Bisa membedakan seorang nabi dengan yang bukan nabi.
Tapi Abu Bakr al-Warraq menegaskan : “Seorang nabi itu menjadi nabi bukan dikarenakan oleh mukjizatnya, melainkan di karenakan Tuhan mengutusnya dan memberi wahyu kepadanya. bila Tuhan telah mengutus seseorang, dan memberi wahyu kepadanya, maka jadilah dia nabi, tak soal apakah dia mempunyai kekuatan-kekuatan gaib atau tak. Dan, yaitu merupakan suatu kewajiban untuk menerima pengakuan seorang Rasul, sekalipun dia tak melihat mukjizat yang mendahului kedatangannya; sebab tujuan mukjizat yang sesungguhnya dalah memberi bukti-bukti yang tak terbantahkan oleh orang-orang yang menyangkal dan mengguatkan ancaman hukuman atas orang-orang yang keras kepala.” Alasan untuk menerima pernyataan seorang nabi yaitu di karenakan dia memanggil orang-orang supaya mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan sendiri sebagai suatu kewajiban, yaitu pengakuan atas keesaan-Nya, sekaligus sangkalan atas pernyataan bahwa Dia bersekutu, dan Aplikasi semua yang oleh akal tak dinyatakan mustahi, melainkan justru waib atau dibolehkan. Kenyataannya, ada dua macam hal yang tersangkut di sini, yaitu nabi (sejati) dan nabi palsu. Nabi itullah yang benar, sedang nabi palsu itu Disorientasi; Tapi, dalam penampilan dan pembicaraan mereka (seolah-olah) sama.
Mereka mengakui  bahwa Tuhan memberi nabi sejati, kekuatan suatu mukjizat, sedangkan nabi yang ssalah tak mempunyai kemampuan seperti nabi yang benar itu, sebab hal itu akan mengisyaratkan bahwa Tuhan tak Bisa membedakan antara yang benar dan yang Disorientasi. Sedangkan mengenai wali sejati, tapi bukan nabi, dia tak membuat pernyataan bahwa dia seorang nabi, atau penyataan lain yang palsdu atau tak benar, dia hanya mengajak orang untuk menerima kebenaran atau yang benar. bila Tuhan memberi suatu suatu kekuatan gaib (karamah) kepadanya, hal ini sama sekali tak menjadikan ragu kedudukan nabi; sebab, orang yang benar itu sesuai dengan nabi, bagus dalam perkataan ataupun perbuatan, dan penampilan kekuatan gaib oleh dia itu malah untuk memperkuat nabi dan mengejawantahkan pernyataannya, menguatkan bukti kenabiannya dan haknya supaya perbuatan dan pernyataannya sebagi nabi diterima, dan juga menegaskan prinsip bahwa Tuhan itu Esa.
Beberapa tokoh Sufi mempertahankan pendapat mereka bahwa mungkin aja Tuhan akan membuat musuh-musuh-Nya Bisa mempunyai – yaitu dengan tips yang sebegitu rupa, sehingga tak menimbulkan keraguan (dalam diri orang lain) beberpa kekuatan Eksklusif, dengan maksud menyeeret meraka pelan-pelan Futuristis kehancura. Kekuatan-keuatan itu setelah itu mendatangkan kesombongan dan kecongkakan dala Heroisme mereka, dan mereka membayangkan bahwa kekuatan-kekuatan itu merupakan kekuatan gaib yang pantas mereka terima di karenakan tindakan-tindakan mereka dan merupakan Copyright mereka dikarenakan perbuatan-perbuatan mereka; mereka membual mengenai tindakan-tindakan mereka, menganggap diri mereka lebih unggul dibanding orang-orang lain; mereka memandang rendah hamba-hamba Tuhan dan bersikap sangat angkuh terhadap mereka, sebab mereka tak tahu apa yang direncanakan oleh Tuhan atas diri mereka. Tapi mengenai para wali, kalau anugerah gaib diberikan oleh Tuhan kepada mereka, mereka justru merasa semakin takut dan semakin merasa hina di hadapan Tuhan, dan mereka semakin menghina diri mereka sendiri sehingga dengan mudah mengakui kekuasaan Tuhan atas diri mereka; dan ini menambah kekuatan dan kemampuan mereka untuk melaksanakan tugas-tugas yang berat, dan mempertebal rasa syukur mereka terhadap Tuhan atas semua yang telah Dia berikan kepadanya.Jadi para nabi itu diberi mukjizat-mukjizat, orang-orang suci diberi kekuatan-kekuatan gaib, dan musuh-musuh (Tuhan) diberi tipuan-tipuan. 
Seoang tokoh Sufi berkaa : “Kekuatan-kekuatan gaib yang diberikan kepada orang-orang suci tak mereka ketahui dari mana datangnya; sedangkan para nabi tahu darimana (asal)nya mukjizat-mukjizat mereka, dan perkataan-perkataan mereka menegaskan mengenai mukjizat-mukjizat tersebut. Disparitas ini dikarenakan adanya Fenomena bahwa, bahwa para wali, ada bahaya bahwa mereka jadi tergoda  (oleh kekuatan-kekuatan gaib mereka), sebab mereka tak dijaga Tuhan sedang kan para nabi, di karenakan mereka tahu bahwa mereka berada di bawah lindungan Tuhan, bahaya itu tak muncul.
(Mereka jelaskan Disparitas antara kekuatan gaib dan mukjizat sebagai berikut). Kekuatan gaib para wali merupakan jawaban untuk doa, atau penyempurnaan dari keadaan kejiwaan, atau Agunan atas kekuatan untuk melaksanakan sesuatu tindakan, atau pemberian alat untuk dignakan sebagai mata pencaharian, dalam tips yang di luar kebiasaan; sedangkan mukjizat yang diberikan kepada para nabi itu merupakan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dari sesuatu yang tak ada, atau mengubah sifat yang esensial dari suatu obyek.
Beberapa ahli ilmu kalam dan tokoh Sufi mengakui bahwa mukjizat-mukjizat ini Bisa jadi diberikan kepada orang-orang yang slah, dengan tips yang tak mereka ketahui di saat mereka mengaku mempunyai mukjizat-mukjizat tersebut, tapi sikap mereka sama sekali tak menimbulkan keraguan. Contoh-contoh hal ini yaitu; kisah mengenai Sungai Nil yang mengalir saat Fir’aun menyuruhnya mengalir; dan kisah mengenai Dajjal, seperti yang diceritakan oleh Muhammad saw. yang akan membunuh seseorang setelah itu, sebagai yang beliau gambarkan, akan menghidupkannya kembali. Mereka jelaskan kedua masalah ini dengan menyatakan bahwa masing-masing mengkau mempunyai sesuatu yang sama sekali tak menimbulkan keraguan, sebab siffat-sifat mereka yang sesungguhnya mempunyai bukti yang cukup dari kepalsuan pernyataan bahwa mereka mempunyai kekuatan-kekuatan Tuhan (rububiyah).
Mereka berselisih paham mengenai kemungkinan untuk wali untuk mengetahui bahwa dirinya seorang wali. Seorang tokoh Sufi berkata : “Hal ini tak mungkin, sebab pengethuan semacam itu akan menghapuskan ketakutannya akan masalah itu dan dengan begitu mengisyaratkan rasa aman (amn). Padahal isyarat rasa man itu berarti hapusnya kehambaan,Sebab hamba (tuhan) itu berada di antara ketakuan dan Asa, Tuhan berffirman : “Mereka berdoa kepda Kami dengan perasaan harap-harap cemas.” Tapi tokoh terbesar dan terpenting Sufi mempertahankan pendapatnya bahwa mungkin aja untuk wali itu untuk menyadari kewaliannya; sebab kewalian itu merupakan karunia (karamah) dan Tuhan untuk menusai; dan manusia diizinkan untuk menyadari kerunia dan kemurahn Tuhan, sebab dengan begitu hatinya akan tersentuh dan lebih bersyukur.
Ada dua jenis kewalian. Yang pertama yaitu semata-mata terjauhkannya seseorang dari permusuhan, dan dalam hal ini berlaku Generik untuk semua orang beriman; tak wajib orang itu menyadarinya, atau mengetahuinya, sebab hal itu hanya dimaksudkan dalam arti Generik, sebagaimana dinyatakan dalam kalimat ini, “Orang yang beriman yaitu karib (wali) Tuhan.” Yang kedua yaitu kewalian orang-orang yang Eksklusif dipilih, dan hal ini wajib disadari dan diketahui oleh orang itu. Kalau seseorang mempunyai kwajlian ini, maka ia dijaga supaya tak berbangga diri dan, di karenakan itu, dia tak jatuh dalam kecongkakan; dia dijauhkan dari orang –orang lain, yaitu dalam arti Empati menikmati kesenangan dari kebanggan mereka, dan karenanya mereka tak Bisa menggodanya. Dia dihindarkan dari kesalahan-kesalahan yang telah menjadi sifat manusia, meskipun sebutan sebagai manusia biasa tetap Inheren dalam diri mereka; di karenakan itu, dia tak Empati menikmati kesenangan nafsunya, dalam tips yang begitu rupa, seperti kalau dia asyik-masyuk di dalam agamanya, meskipun kesenangan alamiah  tetap dinikmatinya. Ini semua merupakan sifat-sifat Eksklusif dari kekariban Tuhan (wilayah) dengan manusia, dan bila seseoang mempunyai sifat-sifat ini, maka musuh itu tak akan mampu mencapainya dan membawanya ke dalam kesesatan; sebab Tuhan berfirman : “Sesungguhnya, hamba-hamba Ku, tak ada kemampuanmu untuk menyesatkan mereka. Sekalipun begitu, dia tak dijaga oleh Tuhan dari menjalankan dosa-dosa yang lebih kecil ataupun yang lebih besar; tapi bila jatuh ke dalam Disorientasi satunya, maka tobat yang tulus sudah tersedia dekat kepadanya. Tapi, Nabi dijaga oleh Tuhan; semuanya mengakui bahwa tak ada dosa besar yang Bisa menghinggapinya, sementara sebagian orang lain bahkan beranggapan bahwa hal itu berlaku pula untuk dosa-dosa kecil. Lebih-lebih, dalam dirinya, rasa takut akan masalah itu jelas sudah terlewatkan tanpa ada penghalang. Nabi memberi tahu para sahabat bahwa mereka yaitu para penghuni surga, da mengenai sepuluh orang di antara mereka, diberi kesaksian bahwa mereka akan dimasukan ke dalam surga; yang mengisahkan hadits ini yaitu Sa’id ib Zaid, dan dia termasuk Disorientasi seorang dari sepuluh orang tersebut. Jadi, kesaksian Nabi itu wajib diterima dengan persetujuan bulat, kemantapan dan kepercayaan; dan ini jelasa mengisyaratkan kemanan dari peraliha, dan hapusnya rasa takut akan perubahan. Toh, masihh ada kisah-kisah termasyhur yang diceritakan untuk menggambarkan rasa takut yang encekam orang-orang ini (yang telah diberi tempat di surga), atas kesaksian nabi. Abu Bakr berkata : “Kalau-kalau aku menjadi seperti suatu korma yang dicucuki burung-burung.” Umar berkata : “Kalau-kalau kau menjadi jerami begini. Kalau-kalau aku menjadi bukan apa-apa.” Abu Ubaidah berkata : “Kalau aja aku bsia menjadi seekor biri-biri, dan pemilik-ku akan menjadikan aku korban dan memakan dagingku serta meneguk kaldu dagingku.” A’isyah berkata : “ Kalau-kalau aku menajdi selembar daun dari pohon ini.” Padahal wanita itulah yang diberi kesaksian bahwa wanita ini yaitu istri nabi di dunai Kini dan Global nanti.” Perasaan-perasaan itu mengusik hati mereka, di karenakan mereka takut jangan-jangan mereka menanggung dosa di karenakan tindakan-tindakan mereka yag menentang (Tuhan), tak mencermin penghormatan kepada Tuhan dan kepada kekuasaan-Nya; sebab, mereka mempunyai rasa hormat kepada Tuhan yang begitu besar sehingga mereka tak mungkin menentang-Nya, sekalipun mereka tak akan dihukum oleh-Nya. 
Maka Umar berkata : “Alangkah baiknya orang seperti Suhaib itu! Dia tak akan ingkar dari Tuhan, sekalipun bila dia tak takut kepada-Nya.” Yang dia maksudkan yaitu “ Suhaib tak ingkar dari Tuhan bukan di karenakan dia takut akan karena-akibatnya, tapi di karenakan dia takzim kepada Tuhan dan menghormati kekuasaan-Nya, serta malu kana Dia, Jadi, rasa takut dari orang-orang yang perkataan-perkataannya telah kami kutip itu, bukanlah rasa takut akan peralihhan dan perubahan; sebab, rasa takut akan kedua hal itu, di saat Nabi telah membuat kesaksian, akan mengisyaratkan keraguan atas penuturan Nabi, dan itu berarti kekafiran; rasa takut itu pun bukanlah rasa takut akan hukuman neraka, tanpa mereka wajib ada di sana selamanya, sebab mereka telah tahu bahwa mereka tak akan dihukum dengan neraka di karenakan perbuatan-perbuatan mereka. Sebab, sekalipun mereka menjalankan dosa-dosa kecil, dosa-dosa tersebut akan diampuni di karenakan mereka menjauh dari dosa-dosa besar , atau dikarenakan penderitaan yang mereka alam selama berada di Global. Abdullah ibn Umar menuturkan bahwa Abu Bakr al-Siddiq berkata : “Aku sedang berada bersama Rasulullah saat ayat yang berikut ini diturunkan : “Barang siapa mengerjakan kejahatan, tentu akan diberi pembalasan yang setimpal dengan kejahatan itu. Nabi berkata : “Tidakkah engkau sebaiknya ku suruh menyitir ayat yang baru aja diturunkan kepadaku itu?” Aku mebjawab : “Tentu aja, Wahai Rasul Allah!. Maka beliau menyuruhku menyitir ayat itu; dan aku tak tahu apa yag menimpaku, tapi aku merasa seakan-akan punggungku patah, dan aku meregangkan badanku. Melihat itu Nabi bertanya : “Apa yang membuat mu sakit, Abu Bakr? Aku menjawab : “Wahai Rasul Allah! Aku memohon kepdamu demi bapak dan ibuku, adakah di antara kita yang belum pernah menjalankan kejahatan? Sesungguhnya kita diberi balasan untuk semua perbuatan kita>’ Nabi menyahut L “Untuk engkau, Abu Bakr, dan untuk orang-orang beriman, mereka akan diberi balasan untuk semua perbuatan mereka di Global ini, sehingga engkau akan bertemu dengan Tuhan tanpa tanggungan dosa, tapi, untuk yang selebihnya. Tuhan akan mengumpulkan balasan untuk mereka itu, dan mereka akan diberi balasan itu nanti di Hari Kebangkitan.” Atau, bila mereka menjalankan dosa-dosa besar , maka tobat akan Genjah menghapuskannya, dan kesaksian Nabi mengenai surga akan terpenuhi untuk mereka; sebab, hais ini dengan cara jelas menyatakan bahwa Abu Bakr akan melewati Hari Kebangkitan tanpa tanggungan dosa sama sekali. di kesempatan lain Nabi berkata kepada Umar : “Bagaimana engkau tahu bahwa Tuhan belum memberi keputusan mengenai orang-orang yang bertempur di Badr, padahal ia berfirman : “Lakukan apa yang kita inginkan, sebab Aku telah mengampunimu?.”
Beberapa hali mempertahankan pendapat mereka bahwa sementara mereka diberi janji surga, mereka tak diberi janji bahwa mereka tak akan dihukum. bila hal ini benar, maka mereka akan takut di neraka, sekalipun mereka tahu bahwa mereka tak akan berada di sana selamanya; dan, dalam hal itu, orang-orang yang lebih disukai, sama sekali tak berbeda dengan orang-orang beriman lainnya, yang sudah jelas akan di jauhkan dari neraka. Nah, bila ada kemungkinan bahwa Abu Bakr dan Umar ankan masuk neraka, sekalipun nabi telah melukiskan mereka sebagai “Pemimpin para sesepuh penghuni surga, bagus yang lebih dulu ataupun yang setelah itu, maka akan ada kemungkinan bahwa al-Hasan dan al-Husain juga akan (masuk neraka) sekalipun Nabi tela melukiskan mereka sebagai “Pemimpin para peuda penghuni surga”. Kalau begitu, bila ada kemungkinan bahwa Tuhan akan memasukan para pemimpin penghuni surga ke neraka, dan menghukum mereka di sana, maka tak ada kemungkinan bahwa seseorang Bisa masuk surga tanpa lebih dulu dihukum dengan neraka, Lebih jauh lagi Nabi berkata : “ Sedangkan mengenai orang-orang dari taraf yang lebih tinggi, mereka akan dipandang oleh orang-orang yang ada di bawah mereka sebagaimana engkau memandang suatu bintang yang muncul dari kaki langit. Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar ada di antara mereka, dan mereka diberkahi. Nah, bila dua orang ini akan dimasukan ke neraka, dan di sana mereka dihinakan – sebab Tuhan berfirman : “Siapa yang Engkau masukan ke dalam neraka, sesungguhnya Engkau telah menghinakannya.”” Lalu bagaimana yang lain-lain Bisa dijauhkan dari sana? Lgi, Ibn Umar bercerita bahwa suatu hati Nabi bersama Abu Bakr dan Umar masuk ke Masjid, yang seorang di samping kanannya dan yang seorang lagi di samping kirinya, dan beliau memegang tangan meraka dan berkata : “Beginilah kami nanti akan diangkat ke tampat yang lebih tinggi di Hari Kebangkitan.” bila hal ini mungkin, seperti disebutkan di atas, bahwa kedua orang itu nanti akan masuk neraka, maka mungkin pula untuk orang yang ketiga untuk masuk neraa. Tapi Nabi berkata : “Akan masuk surga tujuh puluh umatku tanpa melalui penghitungan.” Ukkayah ibn Mihshan al-Asadi berkata : “Wahai Rasul Allah! Doakanlah kepada Tuhan supaya aku termasuk Disorientasi seorang dari mereka.” Nabi menyahut : “ Engkau Disorientasi seorang dari mereka.” Nah, Abu Bakr dan Umar itu lebih bagus dibanding Ukkasyah, sebab Nabi melukiskan mereka sebagai “para pemimpin para sesepuh penghuni surga, bagus yang lebih dahulu ataupun yang setelah itu.” Lalu, bagaimana mungkin Ukkasyah akan masuk surga tanpa melalui penghitungan, padahal dia tak melebihi mereka dalam kebaikannya, kalau mereka aja masuk neraka? Ini jelas merupakan suatu kesalahan besar. Jadi hadis-hadis ini jelaskan bahwa tak ada kemungkinan kedua orang itu  dihukum dengan neraka, terutama dilihat dari kesaksian Nabi bahwa mereka akan berada di surga. Bagaimanapu juga, mereka aman; dan apapun yang telah dikatakan mengenai delapan orang yang telah disebutkan sebelumnya, apakah mereka itu aman atau tak, hanya menyangkut mereka aja, dan lepas dari yang dua orang ini.
Sedangkan mengenai tips para wali tahu perihal (tempat yang telah disediakan untuk mereka di surga) lepas dari sepuluh orang yang disebut terdahulu – sebab mereka menyimaknya dari percakapan langusng dengan Nabi, Sedangkan yang lain-lain tak menikmati Copyright khusu ini, mengingat bahwa mereka tak Hayati di masa nabi — mereka menjadi tahu periha itu dari kemurahan Tuhan yang diberikan kepaa mereka sebagai wali; sebab hati nurani mereka mengenal keadaan-keadaan kejiwaan itu, yang merupakan Asterik-Asterik kekariban dengan Tuhan. Allah memilih mereka dan menjauhkan diri merka dari hal-hal lain supaya mereka Bisa dekat kepada-Nya, sehingga hati nurani mereka menjadi kebal dari segala kejadian, peristiwa ataupun perubahan, yaitu hal-hal yang Bisa menarik mereka supaya menjauh dari-Nya; lebih-lebih mereka mereka Bisa menikmati penglihatan dan wahyu-wahyu yang hanya diperuntukan oleh Tuhan bag orang-orang yang dengan cara Eksklusif dipilih sendiri oleh-Nya di alam kekal, dan juha menikmati hal-hal semacam itu yang tak diberikan-Nya kepada musuh-musuh-Nya. Ada Hadis Nabi yang berrkenaan dengan Abu Bakr al-Siddiq : “Dia lebih unggul daripada kita bukan di karenakan dia banyak berpuasa dan berdoa, tapi di karenakan sesuatu yang telah diisikan di dalam dadanya, atau di dalam hatinya.” Inilah arti hadis itu, yang menenteramkan hati mereka, di karenakan mereka merasakan dalam hati mereka karunia dan rahmat Tuhan, dan bahwa karunia dan rahmat itu nyata dan bukan hanya tipuan belaka, seperti yang terjadi di orang yang oleh Tuhan diberi.” Asterik-Asterik dan yang “setelah itu dia berpantang mempercayainya”. Mereka tahu bahwa Asterik-Asterik  yang nyata itu tak sama dengan Asterik-Asterik yang menipun dan menyesatkan, sebab Asterik-tandan yang menipu itu hanya mempengaruhi tata lahir mereka aja dan berupa suatu kejadian luar biasa yang menarik hati orang yang terkena tipu itu serta memerdayakan dia, sehingga dia mengira bahwa Asterik-Asterik tersebut merupakan gejala-gejala yang menandai kesucian seseorang dan kedekatannya (kepada) Tuhan; padahal sebenarnya, Asterik-Asterik itu sebenarnya, Asterik-tandan itu semata-mata tipuan dan kecurigaan. Kalau memang mungkin bahwa Tuhan akan membuat karunia Eksklusif yang doanugerahkan oleh-Nya kepada prara wali-Nya sama dengan tipuan-tipuan yang digunakan-Nya untuk membawa musuh-musuh-Nya ke dalam kehancuran, maka hal ini berarti bahwa Dia Bisa aja berusaha dengan para wali-Nya sebagaimana Dia berurusan dengan musuh-musuh-Nya.Dia bahkan Bisa aja mengutuk nabi-nabi-Nya dan menjauhkan mereka dari-Nya, sebagaimana yang Dia lakukan terhadap orang-orang yang telah diberi-Nya Asterik-Asterik; tapi Tuhan sama sekali tak Bisa dikatakan sepeerti itu. Lebih-lebihm bila memang mungkin untuk musuh-musuh (Tuna) untuk menikmati Asterik-Asterik yang dimiliki oleh para wali, dan orang-orang terpilih, sedangkan yang menunjuk seseorang  sebagai wali dan orang terpilih itu, dalam kenyataannya, tak menunjuk mereka, maka untuk mereka itu tak akan ada petunjuk Futuristis kebenaran sama sekali. Tapi Asterik-Asterik walayah itu bukan hanya hiasan luar dan pengejawatahan dari yang luar biasasaja; Asterik-tandanya yang benar ada di dalam dan merupakan pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh Tuhandi dalam hati nurani, yaitu pengalaman-pengalaman yang hanya diketahui oleh Tuhan serta orang-orang yang telah menikmati pengalaman-pengalaman tersebut.

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • kitab kalabadzi
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *