KITAB NASHAIHUL IBAAD (BAB 4 : LIMA HAL..)



Karya Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Jawi
(IMAM NAWAWI NUSANTARA)
LIMA MUNAJAT YAHYA BIN MU’ADZ AR-RAZI
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullâh dalam munajatnya berkata:
  1. “Wahai Tuhanku, tiada Estetika malam, kecuali dengan bermunajat kepada-Mu;
  2. tiada Estetika siang hari, kecuali dengan taat kepada-Mu;
  3. tiada Estetika Global ini, kecuali dengan dzikir kepada-Mu;
  4. tiada Estetika akhirat itu, kecuali dengan ampunan-Mu;
  5. tiada Estetika surga itu, kecuali dengan melihat-Mu.”

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Global itu dilaknat; sesuatu yang ada padanya juga dilaknat, kecuali dzikir kepada Allah, sesuatu yang dicintai-Nya, orang ‘Alim; dan orang yang menuntut ilmu.” (HR. Nasa’I dan Ibnu Majah)

Adapun munajatnya ‘Ali radiallahu anhu merupakan sebagai berikut:

“Bukankah Engkau telah mendengar dengan kekuatan-Mu
wahai Tuhan yang menjadi kekuatan atas do’a orang yang lemah
yang ditimpa musibah, yang tenggelam dalam lautan kebingungan
penuh dengan keprihatinan.
Aku berseru dengan penuh rendah diri setiap hari
dalam kesungguhan berdo’a kepada-Mu.
Sungguh terasa sempit bagiku Global ini, sementara penduduk Global
tak mengetahui obatku, maka ambillah tanganku,
di karenakan aku benar-benar memohon keselamatan dengan ampunan-Mu.
Aku datang kepada-Mu dengan diiringi cucuran air mata.
Oleh di karenakan itu, kasihanilah tangisku ini di karenakan malu kepada-Mu.
Aku terlalu banyak noda dan dosa kepada-Mu;
aku sekarang berada dalam kebingungan,
sedangkan Engkau merupakan Dzat Pembebas kebingungan.
Aku sakit, sedangkan Engkau merupakan obat penawar sakitku.
Ya Allah, bangkitkan diriku ini dengan penuh Asa.
Aku katakan kepada-Mu, wahai Tuhanku, aku senantiasa berharap
supaya Engkau mau memenuhi harapanku.
Balasan yang layak untukku tiada lain Engkau menyiksaku.
Akan akan tetapi, aku berlindung dengan anugerah-Mu yang bagus.
Wahai tumpuan harapanku
Engkau telah mengistimewakan junjunganku (Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam)
dengan pemberian maaf atas diriku, di karenakan aku sekarang
berada di tengah musibah yang menimpaku.”

Adapun yang dimaksudkan dengan “ambillah tanganku” merupakan terimalah do’aku ini.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“saat Allah menurunkan Nabi Adam alaihi salaam dari surga ke bumi, maka segala sesuatu yang ada di sekitar Nabi Adam alaihi salaam (sewaktu di surga) turut berduka cita, kecuali emas dan perak. Allah pun lalu berfirman kepada keduanya: ‘Aku jadikan kalian berdua bertetangga dengan seorang hamba dari hamba-Ku, setelah itu Aku turunkan dia dari sampingmu, maka semua yang ada di kanan kirinya turut bersedih, kecuali kalian berdua.’ Selanjutnya, emas dan perak itu berkata: ‘Wahai Tuhan kami dan Pelindung kami, Engkau Maha Mengetahui bahwasanya Engkau telah menjadikan kami bertetangga dengan Adam saat ia taat kepada-Mu. saat ia berbuat dosa, maka kami tak bersedih.’ Selanjutnya, Allah berfirman kepada emas dan perak: ‘Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan memuliakan kalian berdua sehingga segala sesuatu tak akan diperoleh, kecuali dengan kalian berdua.’” (HR. Dailami)

LIMA PERKARA YANG DICINTAI DAN LIMA PERKARA YANG BAKAL DILUPAKAN
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan datang di umatku suatu masa yang mana umatku mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara lainnya, yaitu:

  1. mereka mencintai Global dengan melupakan akhirat;
  2. mereka mencintai kehidupan (Global) dengan melupakan kematian;
  3. mereka mencintai rumah yang megah dengan melupakan kubur;
  4. mereka mencintai harta benda dengan melupakan hisab (pertanggung jawabannya); dan
  5. mereka mencintai makhluk dengan melupakan Khaliqnya (penciptanya, yaitu Allah).”

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Barang siapa yang setiap harinya membaca do’a: ‘Alloohumma baarik lii fil mauti wa fii maa ba’dal mauut,’ (Ya Allah, berilah berkah kepadaku sewaktu menjalani kematian dan sesudahnya) sebanyak 25 kali, niscaya Allah akan membagikan pahala (mati) syahid kepadanya meskipun dia mati di atas peraduannya.” (HR. Thabarani)

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Zuhud merupakan mencintai sesuatu yang dicintai Allah dan membenci sesuatu yang dibenci Allah; meninggalkan harta yang halal sebagaimana meninggalkan harta yang haram, sebab yang halalnya pasti akan dihisab, sedangkan yang haramnya pasti akan membuahkan siksa; menyayangi sesame orang Islam sebagaimana menyayangi diri sendiri; memelihara diri dari ucapan yang tak bermanfaat sebagaimana memelihara diri dari ucapan yang haram; memelihara diri dari banyak makan sebagaimana memelihara diri dari makan bangkai yang amat busuk; memelihara diri dari aneka macam kesenangan Global dan perhiasannya sebagaimana memelihara diri dari panasnya api; dan tak panjang angan-angan. Inilah arti zuhud yang sebenarnya.” (HR. Dailami)

Suatu saat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam melewati suatu majelis yang penuh dengan canda ria dan gelak tawa, setelah itu beliau bersabda kepada mereka yang ada dalam majelis tersebut:

“Isilah majelis kalian ini dengan hal-hal yang Bisa mengingatkan kepada pemutus kenikmatan duniawi.” Para sahabat lantas bertanya: “Apa yang dimaksud dengan pemutus kenikmatan duniawi itu?” Beliau menjawab: “Maut.”

LIMA POIN MUNAJAT AHLI IBADAH
Sebagian ahli ibadah berkata dalam munajatnya sebagai berikut:

“Wahai Tuhanku,

  1. panjang angan-angan telah membuatku tertipu;
  2. kecintaanku kepada Global telah membuat diriku sengsara;
  3. setan-setan telah menyesatkan aku;
  4. nafsu amarah telah memerintahkanku untuk berpaling dari kebenaran dan kejujuran serta melarangku berbuat bagus; dan
  5. teman yang Dursila telah membantuku untuk berbuat maksiat.

Namun demikian, tolonglah aku, wahai Dzat yang selalu membagikan pertolongan kepada mereka yang memohonnya. bila Engkau tak berkenan mencurahkan rahmat kepadaku, siapa lagi yang Bisa mencurahkan rahmat kepadaku selain Engkau?”

Allah telah mengecam panjang angan-angan sebagaimana firman-Nya:
“Biarkanlah mereka (di Global ini) makan dan bersenang-suka dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong). Kelak mereka akan mengetahui (karena perbuatan mereka).” (QS. Al Hijr (15):3)

Berkaitan dengan hubbud dun-ya (cinta Global) Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang hatinya telah dilapisi oleh kecintaan duniawi, maka ia akan selalu diliputi oleh tiga hal, yaitu: kesengsaraan yang tak ada habisnya; rakus yang tak berkesudahan; dan angan-angan yang tak ada ujungnya.” (HR. Thabarani)

‘Ali radiallahu anhu berkata:
“Yang aku khawatirkan terhadap kalian merupakan dua hal, yaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan, sebab mengikuti hawa nafsu akan menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan akan menyebabkan lupa akhirat.”

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Amal yang paling utama merupakan menyelisihi hawa nafsu.”

Adi bin Zaid berkata dalam syair:

Janganlah engkau bertanya mengenai identitas seseorang
akan tetapi tanyakan siapa teman dekatnya
sebab setiap teman itu
suka mengikuti perbuatan orang yang ditemaninya
LIMA INTISARI ZUHUD
Ahli bijak berkata: “Zuhud itu mengandung lima hal, yaitu:
  1. percaya sepenuhnya kepada Allah;
  2. meninggalkan semua yang Bisa melalaikan Allah;
  3. ikhlas dalam beramal;
  4. sabar saat dizhalimi orang lain; dan
  5. qana’ah terhadap rizki yang diterima.”

Yahya bin Mu’adz berkata: “Seseorang tak akan Bisa mencapai tingkatan zuhud yang sempurna, kecuali ia telah mempunyai tiga faktor dasar, yaitu:
  1. beramal semata-mata di karenakan Allah;
  2. berkata tanpa ada kecenderungan rakus terhadap harta keduniaan; dan
  3. mulia tanpa mempunyai pangkat keduniaan.”

Adapun yang dimaksud dengan zuhud yang sebenarnya merupakan seperti yang disabdakan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam :

“Zuhud terhadap Global itu bukanlah mengharamkan yang halal, juga bukan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud itu merupakan engkau tak menggantungkan diri di sesuatu yang ada di dirimu, akan tetapi lebih percaya di sesuatu yang ada di tangan Allah. Juga lebih banyak mengharapkan pahala sewaktu menerima musibah dan engkau lebih suka menerima musibah sekalipun musibah itu menimpa selama hidupmu (sebab pahalanya besar).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abu Dzar)

Syekh Junaid berkata: “Yang disebut zuhud merupakan hati selalu merasa ridha sekalipun usahanya gagal.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Zuhud merupakan tak panjang angan-angan dalam urusan duniawi, bukan mengkonsumsi Boga yang tak enak dan bukan pula mengenakan pakaian yang sangat sederhana.”

Orang yang zuhud tentu tak akan bangga dengan keduniaan yang dimilikinya, juga tak akan meratapi apa yang luput darinya.

LIMA HAL YANG PALING UTAMA
‘Umar radiallahu anhu berkata:
  1. “Aku telah memperhatikan semua teman, namun tak ada teman yang lebih utama daripada memelihara lisan.
  2. Aku telah memperhatikan semua pakaian, namun tak ada pakaian yang lebih utama daripada wara’.
  3. Aku telah melihat semua harta, akan tetapi aku tak melihat yang lebih utama daripada qana’ah.
  4. Aku telah melihat semua kebaikan, namun aku tak melihat yang lebih utama daripada ikhlas dalam beramal.
  5. Aku telah melihat semua Boga, namun aku tak melihat yang lebih nikmat daripada sabar.”

Menurut Ibrahim bin Adham, yang dimaksud dengan wara’ merupakan meninggalkan semua hal yang syubhat. Adapun meninggalkan semua yang tak bermanfaat, itu namanya meninggalkan hal yang sudah semestinya. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jadilah orang yang wara’, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling bagus dalam beribadah.”

Qana’ah merupakan tak mencari-cari sesuatu yang tak ada di dirinya dan merasa cukup dengan apa yang ada padanya. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jadilah orang yang wara’, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling bagus dalam beribadah. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling pandai bersyukur kepada Allah. Cintailah manusia lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya engkau akan menjadi orang mukmin yang sempurna. Berbuat baiklah dalam Hayati bertetangga, niscaya engkau akan menjadi seorang muslim yang bagus. Kurangilah tertawa, sebab banyak tertawa Bisa membuat hati menjadi mati.”

Berkaitan dengan perintah untuk berbuat bagus kepada orang lain. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hati itu diciptakan cenderung untuk mencintai orang yang berbuat bagus kepadanya dan cenderung membenci orang yang telah berbuat buruk kepadanya.”

Dalam kebaikan terdapat keridhaan manusia, sedang dalam taqwa terdapat keridhaan Allah. Barang siapa sukses meraih keduanya, sungguh telah sempurna kebahagiaan dan nikmat yang diraihnya. Orang baru disebut sabar apabila dirinya telah memenuhi tiga kriteria (saat mendapat qadha’ yang tak disukainya), yaitu:

    1. mampu mengendalikan diri dari membenci qadha’ tersebut;
    2. mampu mengendalikan lisannya dari ucapan yang buruk; dan
    3. mampu mengendalikan anggota badannya dari memukul, menyobek-nyobek pakaian, mencoreng-coreng muka, menaburi kepalanya dengan debu, dan lain-lain (tindakan yang tak bagus dilakukan).
LIMA NASIHAT SYAQIQ AL-BALKHI
Syaqiq Al-Balkhi berkata: “Ada lima perkara yang wajib kalian kerjakan, yaitu:
  1. beribadahlah kepada Allah, sebab kalian pasti membutuhkan-Nya;
  2. ambillah harta duniawi ini sekadar cukup untuk memenuhi Hayati kalian;
  3. berbuatlah maksiat kepada Allah bila kalian memang kuat merasakan siksaan-Nya;
  4. persiapkan bekal di Global menurut ukuran lamanya kalian tinggal di dalam kubur (dan sesudahnya); dan
  5. beramallah untuk meraih surga sesuai dengan tingkatan tempat yang kalian inginkan.”
LIMA PENYEBAB CELAKA DAN BAHAGIA
Muhammad Ibnu Dauri rahimahullâh berkata: “Iblis itu celaka di karenakan lima hal, yaitu:
  1. tak pernah mengakui dosa yang dilakukannya;
  2. tak pernah menyesal setelah menjalankan perbuatan dosa;
  3. tak pernah mencela dirinya;
  4. tak pernah punya niat untuk bertobat; dan
  5. Frustasi asa dari rahmat Allah.

Sebaliknya, Nabi Adam alaihi salaam bahagia di karenakan lima hal, yaitu:
  1. mau mengakui dosa yang pernah beliau perbuat;
  2. menyesali dosanya;
  3. mencela dirinya sendiri(di karenakan menjalankan suatu kesalahan);
  4. Genjah bertobat (setiap kali menjalankan kesalahan); dan
  5. tak Frustasi asa dari rahmat Allah.”

Kalimat pengakuan Nabi Adam alaihi salaam atas dosanya merupakan sebagai berikut:
Robbanaa zholamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin.
“Wahai Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri, Apabila Engkau tak mengampuni diri kami dan tak merahmati kami, tentu kami termasuk orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf (7):23)

Berkaitan dengan pengakuan atas dosa yang pernah dilakukan, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba itu bila mau mengakui dosa yang dikerjakannya, setelah itu bertobat kepada Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan penyesalan atas dosa yang pernah dilakukan, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa menjalankan suatu kesalahan atau berbuat dosa, setelah itu ia menyesal, maka penyesalannya itu merupakan sebagai kifaratnya.” (HR. Baihaqi, dari ‘Abdullah bin Mas’ud)

LIMA KETERGESAAN YANG bagus
Hatim Al-Asham rahimahullâh berkata: “Ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan, kecuali dalam lima hal, sebab yang lima itu termasuk Sunnah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam yaitu:
  1. Genjah memberi jamuan kepada tamu apabila ia telah masuk rumah;
  2. Genjah mengurus mayat bila sudah jelas kematiannya;
  3. Genjah menikahkan anak perempuan bila ia sudah dewasa;
  4. Genjah membayar hutang bila telah tiba waktu pembayarannya; dan
  5. Genjah bertobat saat terlanjur menjalankan maksiat.”

Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam beberapa hadits berikut:

“Barangsiapa memberi makan kepada saudaranya yang muslim Boga kesukaannya sehingga keinginan untuk makannya terpenuhi, maka Allah mengharamkan dia masuk neraka.” (HR. Baihaqi, dari Abu Hurairah)

“Barangsiapa memberi makan berupa roti kepada saudaranya yang Bisa mengenyangkan perutnya dan memberinya minum sehingga hilang dahaganya, maka ia jauh dari neraka sejauh tujuh parit, sementara setiap parit lebarnya sejauh perjalanan 700 tahun.” (HR. Nasa’i, Thabarani, Hakim, dan Baihaqi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

“Sesungguhnya balasan yang pertama kali diberikan kepada seorang mukmin sesudah matinya merupakan diampuninya dosa orang-orang yang mengantarkan jenazahnya ke kubur.” (HR. Baihaqi)

“bila calon penghuni surga meninggal, maka Allah s.w.t. merasa malu untuk menyiksa orang-orang yang mengusung jenazahnya, yang mengantarkannya, dan yang menshalatkannya.” (HR. Dailami)

“Barangsiapa menikahkan anak perempuannya, maka kelak di hari Kiamat Allah akan membagikan mahkota raja kepadanya.” (HR. Ibnu Syahin, dari ‘Aisyah)

Dalam riwayat Ibnu ‘Umar radiallahu anhu, dia berkata:

“Sungguh kami pernah menghitung bahwa dalam satu majelis Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam membaca: ‘Robbighfir lii wa tub’alayya innaka antat tawwaabul ghofuur.'(Ya Rabb, ampunilah dosaku dan terimalah tobatku; sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Pengampun.) sebanyak 100 kali.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud)

LIMA HAL NEGATIF DALAM MENGUMPULKAN HARTA
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullâh berkata: “di zaman sekarang ini tidaklah ada seseorang yang Bisa mengumpulkan harta benda, melainkan di dirinya terdapat lima hal negatif, yaitu:
  1. panjang angan-angan;
  2. rakus yang Lebih;
  3. sangat bakhil;
  4. tak mempunyai sifat wara’; dan
  5. melupakan akhirat.

Orang yang mencintai Global itu tercela, sedangkan orang yang mencari Global melebihi yang dibutuhkan merupakan sangat hina. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Orang yang paling bagus diantara kalian bukanlah orang yang meninggalkan urusan dunianya demi mengejar akhiratnya, juga bukanlah orang yang meninggalkan urusan akhiratnya demi mengejar dunianya. Akan akan tetapi, orang yang paling bagus diantara kalian merupakan orang yang mengambil Global dan akhirat.”

sebaik-bagus kendaraan merupakan Global, maka naikilah Global niscaya ia Bisa mengantarkan kalian hingga ke akhirat.”

‘Ali radiallahu anhu berkata:

Global itu tempat bershadaqah untuk orang yang mau menshadaqahkan (harta)nya, tempat keselamatan untuk orang yang mengerti betul mengenai Global, juga sebagai tempat Harta untuk orang yang mau menjadikannya sebagai bekal(ke akhirat).”

Seorang penyair berkata:

Wahai pelamar Global untuk dirinya sendiri
sesungguhnya setiap hari Global itu punya kekasih
Dia ingin dinikahi suami baru
padahal di tempat lain dia sudah dicampuri oleh yang lain
Sungguh Global menerima para pelamarnya
hanya untuk membunuh mereka satu per satu
Sungguh aku telah tertipu
dan sungguh Bala itu menimpaku sedikit demi sedikit
Carilah bekal yang sempurna tuk menyambut kematianmu, sebab
juru seru(kematian) telah memanggil-manggil untuk berangkat pulang
LIMA DAMPAK MENGUMPULKAN DAN MENJAUHI KEDUNIAAN
Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Mengumpul-ngumpulkan harta itu mempunyai lima dampak negatif untuk pelakunya, yaitu:
  1. menguras banyak tenaga dan pikiran dalam mengumpulkannya;
  2. lalai dari mengingat Allah di karenakan sibuk mengatur harta;
  3. adanya ketakutan terhadap perampok dan pencurinya;
  4. adanya kemungkinan disebut bakhil oleh orang lain; dan
  5. adanya kemungkinan jauh dari orang-orang shalih di karenakan selalu sibuk dengan urusan duniawi.
Adapun menjauhkan diri dari mengumpul-ngumpulkan harta punya lima dampak positif untuk pelakunya, yaitu:
  1. adanya ketenangan Heroisme, sebab tak wajib bersusah-payah untuk mengusahakannya;
  2. mempunyai banyak waktu untuk mengingat Allah;
  3. senantiasa merasa aman dari perampok dan pencuri;
  4. dirinya pantas menyandang gelar pemurah hati, (sebab tentu tak lupa menshadaqahkannya bila mendapat harta); dan
  5. Bisa bergaul dengan orang-orang shalih.”

Ahli sastra berkata: “Kemurahan hati seseorang Bisa menyebabkan ia dicintai oleh lawan-lawannya, sedangkan kebakhilan seseorang Bisa menyebabkan ia dibenci oleh anak-anaknya.”

Sebagian ahli sastra lainnya berkata: “Sebaik-bagus harta merupakan yang Bisa memperbudak (membeli hati) orang yang merdeka dan sebaik-bagus perbuatan ialah yang berhak mendapat ucapan terima Afeksi dari orang lain.”

LIMA PEMELIHARAAN
Nabi s.a.w. bersabda:
  1. Berbisik itu Bisa menyimpan rahasia.
  2. Shadaqah Bisa memelihara Global.
  3. Keikhlasan Bisa memelihara amal (dari terhapusnya pahala).
  4. Jujur Bisa memelihara ucapan dari perkataan dusta.
  5. Musyawarah Bisa memelihara pendapat-pendapat (untuk mencapai suatu kesepakatan bersama).

Berbisik itu Bisa menyimpan rahasia, sementara mampu memelihara rahasia termasuk sebab dominan dalam mencapai kesuksesan. Nabi s.a.w. bersabda:
“Mintalah pertolongan kepada Allah dalam usaha meraih suatu hajat dengan merahasiakannya, di karenakan setiap orang yang mendapatkan nikmat pasti ada orang lain yang dengki kepadanya.”

Berkaitan dengan poin 2, Nabi s.a.w. bersabda:
“Tiada hari saat matahari telah terbenam, kecuali ada dua malaikat yang berdo’a: ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang mau menginfaqkan hartanya dan berilah kebangkrutan kepada orang yang tak mau menginfaqkan hartanya.'” Allah pun lalu menurunkan ayat-Nya (QS. Al-Lail ayat 5-7 –edt.): “Adapun orang yang membagikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Dari Abu Darda’, dari Nabi s.a.w.)

Berkaitan dengan ikhlas, ikhlas itu ada 3 tingkatan, yaitu:

  1. Menyembunyikan amal dari perhatian orang lain. Dalam beribadah tak ada tujuan lain kecuali melaksanakan perintah Allah dan menetapi Copyright ubudiyyah. Juga bukan ditujukan untuk meraih simpati orang lain supaya mendapat Afeksi sayang, pujian, harta, atau sesuatu lainnya dari mereka. Inilah tingkatan ikhlas yang tertinggi.
  2. Beramal semata-mata di karenakan Allah dengan tujuan supaya Allah membagikan balasan di akhirat nanti, seperti supaya dijauhkan dari siksa neraka, dimasukkan ke surga, dan diberi berbagai kenikmatan lainnya. Inilah tingkatan ikhlas nomor dua.
  3. Beramal di karenakan Allah semata dengan berharap supaya Allah membagikan balasan di Global, seperti supaya diluaskan rizkinya dan supaya dihindarkan dari hal-hal yang tak disukainya. Inilah tingkatan ikhlas paling rendah

Adapun menjalankan amal dengan kriteria selain itu, maka merupakan riya’ yang sangat tercela.

Berkaitan dengan poin 4, dalam jelaskan firman Allah (QS. Al-Baqarah (2): 42 –edt.):
“Janganlah kalian mencampur-adukkan antara yang haq dan yang bathil.”

Ibny ‘Abbas berkata: “Maksudnya merupakan janganlah kalian mencampur-adukkan antara kejujuran dan dusta.”

Orang yang dusta, omongannya tak akan diterima Allah dan juga tak akan diterima manusia. Ulama ahli bijak berkata: “Lebih bagus diam daripada berkata bohong. Ucapan yang jujur merupakan awal dari suatu kebahagiaan.”

Ahli balaghah berkata: “Orang yang jujur itu dihormati dan dicintai, sedang orang yang bohong terhina lagi direndahkan.”

Berkaitan dengan musyawarah, Nabi s.a.w. juga pernah bersabda:
“Musyawarah itu akan mencegah terjadinya penyesalan dan celaan dari orang lain.”

‘Ali r.a. pernah berkata: “Sebaik-bagus tips dalam pengambilan keputusan merupakan dengan musyawarah dan seburuk-buruk langkah merupakan kediktatoran.”

LIMA TANJAKAN DALAM MERAIH TAQWA
Ahli bijak berkata: “Untuk meraih taqwa itu wajib melalui lima tanjakan. Barangsiapa Bisa melaluinya, maka dia benar-benar akan menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah, yaitu:
  1. memilih amal yang berat dengan meninggalkan Hayati bersenang-suka;
  2. memilih capek (dalam beribadah) dengan meninggalkan bersantai-santai;
  3. memilih kerendahan hati dengan meninggalkan kesombongan;
  4. memilih diam dengan meninggalkan pembicaraan yang tak ada manfaatnya; dan
  5. memilih ‘mati’ daripada ‘Hayati’.
Yang dimaksudkan dengan mati di sini merupakan mengekang hawa nafsu. Barangsiapa yang Bisa mengekang hawa nafsunya, berarti ia Hayati.
Mati itu ada empat macam, yaitu:
  1. mati merah, yakni tak menuruti hawa nafsu;
  2. mati putih, yakni Bisa menahan lapar, sebab kondisi lapar itu Bisa menyinari perut dan membuat hati menjadi putih (Higienis); dan orang yang Bisa menahan rasa lapar itu akan Hayati kecerdasannya;
  3. mati hijau, yakni memakai pakaian yang sangat sederhana, dan hal ini merupakan cerminan dari adanya qana’ah yang tinggi;
  4. mati hitam, mampu menerima dengan lapang dada dan ikhlas atas perlakuan orang lain yang menyakitinya.
LIMA MACAM TAFAKKUR
Jumhur ulama berkata: “Tafakkur itu ada lima macam, yaitu:
  1. tafakkur mengenai ayat-ayat Allah; buahnya merupakan tauhid dan yaqin kepada Allah;
  2. tafakkur mengenai nikmat-nikmat Allah; buahnya merupakan rasa cinta dan syukur kepada Allah;
  3. tafakkur mengenai janji-janji Allah; buahnya merupakan rasa cinta kepada kebahagiaan akhirat;
  4. tafakkur mengenai ancaman Allahl; buahnya merupakan kewaspadaan dalam menjauhi maksiat sekaligus mengagungkan Allah;
  5. tafakkur mengenai sejauh mana ketaatan kepada Allah dan kebaikan Allah kepada diri kita: buahnya merupakan rasa takut kepada Allah.”
mengenai keutamaan tafakkur (memikirkan dan merenungkan dengan sungguh-sungguh akan kebesaran Allah –edt.), ‘Ali r.a. pernah berkata:
“Tiada ibadah yang nilainya sebanding dengan tafakkur.”

Sebagian ahli ma’rifat berkata: “Tafakkur itu merupakan pelita hati. saat tafakkur hilang, maka tak ada pelita lagi untuk hati.”

Dalam satu Hadits disebutkan:
“Tafakkur sesaat lebih bagus daripada ibadah selama 60 tahun.”

Menurut Syaikh Al-Hifni, maksud Hadits ini merupakan bahwa tafakkur mengenai semua ciptaan Allah, mengenai sakaratul maut, mengenai siksa kubur, dan mengenai kesulitan-kesulitan yang terjadi di hari Kiamat, lebih bagus daripada ibadah yang banyak.

Khalil Ar-Rasyidi berkata: “Tafakkur tak akan Bisa terwujud tanpa adanya lisan yang terbiasa berdzikir kepada Allah yang disertai dengan kekhusyu’an hati, sehingga memungkinkan adanya dzikir di dalam hati. Dan terwujudnya dzikir yang demikian ini sangat bergantung di faktor ma’rifah, sebab orang yang tak mempunyai ma’rifah tentu tak akan Bisa merasakan dzikir dalam lisannya yang disertai dengan kekhusyu’an hati.”

Ma’rifah sebagaimana dijelaskan oleh Ibrahim Ar-Raqi, merupakan menetapkan kebenaran di porsi yang semestinya, yakni di luar dari segala yang membingungkan.

Tafakkur mengenai ayat-ayat Allah merupakan tafakkur mengenai semua keajaiban ciptaan Allah yang spektakuler dan mengenai bukti-bukti kekuasaan-Nya, bagus yang kasat mata ataupun yang tak, yang semuanya terbentang di langit dan di bumi. Termasuk ciptaan Allah yang sungguh menakjubkan merupakan diri manusia. Dia berfirman:
“Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus (10): 101)

“Dan di bumi itu terdapat Asterik-Asterik (kekuasaan Allah) untuk orang yang yaqin; dan (juga) di diri kalian sendiri. Maka apakah kalian tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzaariyaat (51): 20-21)

Tafakkur mengenai ayat-ayat Allah akan membuahkan tauhid dan yaqin, maksudnya akan menambah ma’rifah kita kepada Allah dan kepada sifat-sifat dan nama-Nya. Allah berfirman:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka Asterik-Asterik (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan di diri mereka sendiri, sehingga jelaslah untuk mereka bahwa Al-Qur’an itu merupakan benar….” (QS. Fushshilat (41): 53)

Adapun di antara buah yaqin merupakan merasa tenang dan tenteram dengan janji Allah, percaya penuh akan Agunan-Nya, sangat antusias dalam menyambut seruan-Nya, berusaha meninggalkan semua hal yang Bisa memalingkan dari ajaran-Nya, mengembalikan segala urusan di hukum-Nya, dan mengerahkan segala kemampuan dalam meraih ridha-Nya.

Berkaitan dengan tafakkur mengenai nikmat-nikmat Allah, Allah telah berfirman:
“Ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kalian mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raaf (7): 69)

“bila kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak Bisa menghitungnya.” (QS. Ibrahim (14): 34)

“Nikmat apa aja yang ada di kalian, maka dari Allahlah (datangnya).” (QS. An-Nahl (16): 53)

Berkaitan dengan tafakkur mengenai janji-janji Allah, Allah telah berfirman:
“Maka apakah orang yang beriman sama dengan orang yang fasiq? Mereka tentu tak sama.” (QS. As-Sajdah (32): 18)

“Adapun orang yang membagikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail (92): 5-7)

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.” (QS. An-Nuur (24): 55)

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Infithaar (82): 13)

Berkaitan dengan tafakkur mengenai ancaman Allah, Allah telah berfirman:
“Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithaar (82): 14)

“Maka masing-masing (dari mereka itu) Kami siksa dikarenakan dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil; di antara mereka ada yang ditimpa suara keras mengguntur; di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam perut bumi; dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Allah sekali-kali tak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.” (QS. Al-‘Ankabuut(29): 40)

Berkaitan dengan tafakkur mengenai sejauh mana ketaatan kita kepada Allah dan kebaikan Allah kepada diri kita, Allah telah berfirman:
“Kami takkan menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56)

“Apakah kalian mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian dengan cara main-main (aja), dan bahwa kalian tak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minuun (23): 115)

Termasuk tafakkur mengenai sejauh mana ketaatan kita kepada Allah dan kebaikan Allah kepada diri kita merupakan:

  1. Mentafakkuri bahwa Allah Maha Mengetahui keberadaan kita dan Maha Melihat apa pun yang kita kerjakan. Allah berfirman:
    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf (50): 16)

    “Dia selalu bersama kalian di mana aja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hadiid (57): 4)

    “Tidakkah engkau perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya.” (QS. Al-Mujaadilah (58): 7)

    Buah dari tafakkur ini merupakan kita merasa malu kepada Allah untuk melanggar perintah atau Embargo-Nya.

  2. Mentafakkuri mengenai kehidupan Global berikut segala kesibukan yang ada di dalamnya dan betapa Genjah lenyapnya; dan mengenai akhirat berikut kenikmatan dan kekekalannya, Allah berfirman:

    “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian berpikir mengenai Global dan akhirat.” (QS. Al-Baqarah (2): 219-220)

    “akan tetapi kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat itu lebih bagus dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa (87): 16-17)

    Tiadalah kehidupan Global ini, melainkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabuut (29): 64)

    Tafakkur ini akan membuat kita zuhud terhadap Global dan suka kepada kebahagiaan akhirat.

  3. Mentafakkuri mengenai kematian dan penyesalan/kerugian yang terjadi sesudahnya (bila kita tak pandai memanfaatkan kesempatan dalam Hayati ini –edt.). Allah telah berfirman:
    “Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kalian ingin lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu pasti akan menemui kalian, setelah itu kalian dikembalikan kepada Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.'” (QS. Al-Jumu’ah (62): 8)

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari dzikrullah. Barangsiapa yang hingga berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munaafiquun (63): 9)

    “Allah sekali-kali tak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila ajalnya sudah tiba.” (QS. Al-Munaafiquun (63): 11)

    Buah dari tafakkur ini merupakan akan membuat seseorang tak berpanjang angan-angan, berusaha memperbaiki amal, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan sesudah mati.

Sudah seyogyanya untuk setiap muslim untuk mempraktekkan semua tafakkur yang telah diuraikan ini. Hanya aja yang wajib diperhatikan merupakan supaya jangan hingga terjebak di tafakkur mengenai Dzat Allah. Nabi s.a.w. pernah bersabda:
“Bertafakkurlah kalian mengenai ayat-ayat Allah dan janganlah bertafakkur mengenai Dzat Allah, sebab kalian benar-benar tak akan mampu melakukannya.”
LIMA PENAWAR HATI
‘Abdullah Al-Inthaqi berkata: “Ada lima hal yang termasuk penawar hati, yaitu:
  1. bergaul dengan orang shalih;
  2. membaca Al-Qur’an (dan mentadabburinya);
  3. sedikit makan;
  4. qiyamul lail;
  5. bermunajat kepada Allah di waktu sahur.”
Yang dimaksud dengan penawar hati merupakan beberapa hal yang wajib dilakukan supaya hati seseorang tak menjadi keras.

Bergaul dengan orang shalih maksudnya banyak menghadiri majelis ta’lim mereka dan mendengarkan nasihat mereka. Termasuk di dalamnya merupakan sikap diam dan ‘uzlah dari mereka yang membicarakan kebathilan.

Berkaitan dengan sedikit makan, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada tiga hal yang Bisa menyebabkan kerasnya hati, yaitu banyak makan, banyak tidur, dan suka bersantai-santai.”

LIMA KEUTAMAAN KEFAKIRAN
Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Orang fakir yang ridha dengan kefakirannya berarti telah memilih lima hal yang terpuji, sedangkan orang kaya yang bangga dengan kekayaannya berarti telah memilih lima hal yang tercela. Kelima hal terpuji pilihan orang fakir tersebut yaitu:
  1. ketenangan Heroisme;
  2. ketenteraman hati;
  3. konsentrasi beribadah kepada Tuhannya;
  4. kemudahan dalam hisab (di akhirat); dan
  5. derajat yang tinggi (di surga).
Adapun keima hal tercela pilihan orang kaya yaitu:
  1. kelelahan diri dalam memburu harta duniawi;
  2. menyibukkan hatinya dalam urusan duniawi semata;
  3. mengabdi kepada duniawi;
  4. kesulitan dalam hisab; dan
  5. derajat yang rendah di Hepotenusa Allah.”
LIMA HAL NEGATIF YANG SALING BERKAITAN
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahulaah berkata:
  1. “Barangsiapa selalu kenyang perutnya, maka banyak dagingnya.
  2. Barangsiapa banyak dagingnya, maka besar syahwatnya.
  3. Barangsiapa besar syahwatnya, maka banyak dosanya.
  4. Barangsiapa banyak dosanya, maka keras hatinya.
  5. Barangsiapa keras hatinya, maka ia akan tenggelam dalam lautan kenistaan dan kemewahan duniawi.”
LIMA KESEMPATAN YANG wajib DIMANFAATKAN DENGAN bagus
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Manfaatkan lima kesempatan sebelum datangnya lima kesempatan yang lain, yaitu:
  1. masa mudamu sebelum masa tuamu;
  2. masa sehatmua sebelum masa sakitmu;
  3. masa kayamu sebelum masa fakirmu;
  4. masa hidupmu sebelum kematianmu; dan
  5. masa senggangmu sebelum masa sibukmu.” (HR. Hakim dan Baihaqi, dari Ibnu ‘Abbas; dan Ahmad dan Abu Nua’im, dari ‘Amr bin Maimun)
Maksud poin 5 merupakan manfaatkan waktu senggangmu di Global ini sebaik-baiknya untuk menjalankan ketaatan sebelum datang waktu sibukmu saat menghadapi huru-hara hari Kiamat, yang tahap pertamanya merupakan memasuki alam kubur.
LIMA KALIMAT DALAM TAURAT
Hasan Basri berkata: “Ada lima kalimat yang tertulis dalam Kitab Taurat, yaitu:
  1. Harta itu ada di tips Hayati qana’ah;
  2. keselamatan itu ada dalam ‘uzlah;
  3. kemuliaan ada di kemampuan mengendalikan hawa nafsu;
  4. kesenangan itu hanya ada di kehidupan yang panjang (dan kekak, yakni di dalam surga); dan
  5. kesabaran itu hanya ada di kehidupan yang pendek (didunia).”
LIMA KEBAHAGIAAN DI Global DAN AKHIRAT
‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata:

“Orang yang mempunyai lima hal berikut akan bahagia di Global dan di akhirat, yaitu:
  1. banyak-banyak membaca: ‘Laa ilaaha illallooh Muhammadur rosuulullooh.’;
  2. setiap kali ditimpa musibah mengucapkan: ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘azhiim.’ (Sesungguhnya kami ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Tiada daya (untuk menjauhi maksiat) dan tiada kekuatan (untuk taat), kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung);
  3. saat menerima nikmat dari Allah mengucapkan: ‘Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.’ (Segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam), sebagai bentuk syukur (dengan cara lisan);
  4. setiap kali akan memulai sesuatu selalu mengucapkan: ‘Bismillaahir rohmaanir rohiim.’;
  5. setiap menjalankan dosa, ia membaca: ‘Astaghfirulloohal ‘azhim, wa atuubu ilaih.’ (aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya).”
Berkaitan dengan poin 1, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Perbanyaklah kalian berdzikir kepada Allah s.w.t. dalam segala keadaan, di karenakan sesungguhnya tak ada amal yang lebih dicintai oleh Allah dan lebih menyelamatkan seseorang dari semua keburukan Global dan akhirat daripada berdzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Sharshari)

Berkaitan dengan poin 2, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah kalian banyak berbicara selain berdzikir kepada Allah, di karenakan sesungguhnya banyak berbicara selain dzikir Bisa menyebabkan hati keras, padahal manusia yang paling jauh dari rahmat Allah merupakan orang yang mempunyai hati keras.” (HR. Tirmidzi)

Berkaitan dengan poin 3, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ucapan yang paling disenangi oleh Allah ada empat, yaitu: subhaanallooh, al-hamdulillaah, laa ilaaha illallooh, dan Alloohu akbar. tak masalah bagimu untuk memulai dari lafazh yang mana dalam mengucapkannya.” (HR. Muslim dan Nasa’i, dari Samurah bin Jundub)

“Ucapkanlah ‘laa ilaaha illallooh’ dan ‘Alloohu akbar’; ucapkanlah ‘subhaanallooh’ dan ‘al-hamdulillaah’; dan ucapkanlah ‘tabaarokallooh.’ sebab semua ucapan itu merupakan lima perkara yang tak ada perkara lain yang Bisa menyamainya.” (HR. Ibnu Sharshari)

Berkaitan dengan poin 4, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Setiap perbuatan bagus yang di dalamnya tak dimulai dengan pujian kepada Allah, maka perbuatan tersebut terputus (dari rahmat Allah).” (HR. Ibnu Hibban)

“Setiap perbuatan bagus yang di dalamnya tak dimulai dengan bacaan basmalah, maka perbuatan tersebut terputus (dari rahmat Allah).” (HR. Abu Dawud, dari Abu Hurairah)

Berkaitan dengan poin 5, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian mengenai penyakit kalian dan obat untuk kalian? Bahwasanya penyakit kalian merupakan berbuat dosa, sedangkan obatnya merupakan beristighfar.” (HR. Dailami, dari Anas bin Malik)

“Barangsiapa selalu membaca istighfar, maka Allah akan menjadikan untuk dirinya jalan keluar dari semua kesulitan, menjadikan kegembiraan dari semua kesusahan, dan akan memberi rizki kepadanya dari jalan yang tak disangka-sangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dari Ibnu ‘Abbas)

“Hendaklah kalian banyak mengucapkan laa ilaaha illallooh dan beristighfar, sebab iblis berkata: ‘Aku membinasakan manusia dengan merayunya untuk berbuat dosa, namun mereka membinasakan aku dengan banyak mengucapkan laa ilaaha illallooh dan beristighfar. saat aku melihat yang seperti itu, maka aku akan membinasakan mereka dengan merayunya untuk mengikuti hawa nafsu mereka yang dengan begitu mereka menyangka bahwa mereka berada dalam petunjuk.'” (HR. Ahmad dan Abu Ya’la, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq)

Al-Faqih Abu Laits berkata: “Barangsiapa memelihara tujuh perkara, maka ia akan menjadi orang yang mulia di Hepotenusa Allah dan di hadapan para malaikat; Allah akan mengampuni dosanya meski banyaknya seperti buih lautan; ia akan merasakan nikmatnya melaksanakan ketaatan; dan Hayati matinya akan berada dalam kebaikan. Ketujuh perkara itu merupakan:

  1. membaca basmallah setiap akan memulai sesuatu;
  2. membaca hamdallah setiap kali selesai mengerjakan sesuatu;
  3. membaca istighfar setiap kali menjalankan sesuatu yang tak bermanfaat;
  4. mengucapkan insya Allah setiap kali berjanji untuk menjalankan sesuatu;
  5. mengucapkan laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘azhiim setiap kali menemukan sesuatu yang tak disenangi.
  6. mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun setiap kali tertimpa musibah; dan
  7. banyak-banyaklah membaca laa ilaaha illallooh muhammadur rasuulullooh, bagus siang hari ataupun malam hari.”
LIMA KEMULIAAN RASULULLAH
Jumhur ulama rahmatullaahi ‘alaihim ajma’iin berkata: “Allah ta’ala memuliakan Nabi Muhammad s.a.w. dengan lima kehormatan, yaitu:
  1. dalam hal nama;
  2. dalam hal tubuh;
  3. dalam hal pemberian;
  4. dalam hal kesalahan; dan
  5. dalam hal ridha.”
Dalam hal nama, maksudnya beliau dipanggil dengan sebutan rasul dan tak dipanggil dengan namanya sebagaimana saat Allah memanggil nabi-nabi lainnya, seperti Adam, Nuh, Ibrahim, dan sebagainya. Allah telah berfirman:
“Wahai rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu (dari Rabbmu).” (QS. Al-Maa-idah (5): 67)

Dalam hal tubuh, maksudnya saat beliau berdo’a atau memohon sesuatu yang berkaitan dengan masalah tubuh, do’a beliau dikabulkan, sementara Allah tak berbuat demikian terhadap nabi-nabi yang lain. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa Nabi s.a.w. sukses mengembalikan mata Qatadah ke tempat semula yang tadinya keluar dan menggelantung di pipinya.

Dalam hal pemberian, maksudnya merupakan Allah membagikan sesuatu kepada beliau meskipun tanpa ada permintaan lebih dahulu, Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah membagikan nikmat yang banyak kepadamu.” (QS. Al-Kautsar (108): 1)

“Dan kelak Rabbmu pasti membagikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kita menjadi puas.” (QS. Adh-Dhuhaa (93): 5)

Dalam hal kesalahan, maksudnya merupakan adanya pemaafan sebelum perbuatan dosanya beliau kerjakan, Allah berfirman:
“Allah telah memaafkanmu.” (QS. At-Taubah (9): 43)

Adapun dalam hal ridha, maksudnya merupakan bahwa fidyah, shadaqah, dan nafkah yang beliau keluarkan tak ada yang ditolak oleh Allah, sementara Allah pernah menolak dari nabi-nabi yang lain.

Disebutkan dalam satu riwayat bahwa beliau pernah menyembelih qurban untuk umat beliau dan membayar kifarat untuk seseorang dari kalangan umat beliau di karenakan menjalankan Interaksi suami-istri di siang bulan Ramadhan.

LIMA SIFAT TERCELA
‘Ali berkata:

“bila tak ada lima sifat tercela, niscaya manusia seluruhnya akan menjadi orang shalih. Kelima sifat tercela tersebut yaitu:
  1. merasa suka dengan kebodohan;
  2. rakus terhadap harta keduniaan;
  3. bakhil dengan kelebihan harta yang dimiliki;
  4. riya’ dalam setiap amal yang dilakukan; dan
  5. senantiasa membanggakan pendapat sendiri.”
Rasulullah s.a.w. bersabda dalam beberapa Hadits berikut:
“Allah membenci setiap orang yang hanya pandai dalam urusan duniawi, akan tetapi bodoh dalam urusan akhirat.” (HR. Al-Hakim)

“Dosa orang ‘Alim itu satu, sedangkan dosa orang bodoh itu dua.” (HR. Ad-Dailami)

“Zuhud dalam urusan duniawi akan menyenangkan hati dan badan, sedangkan suka dalam urusan duniawi akan membuat hati dan badan menjadi lelah.” (HR. Thabarani)

“Sebaik-bagus Global untuk seseorang merupakan apabila Global itu dijadikan sebagai bekal untuk kepentingan akhirat sehingga Rabbnya meridhainya. Seburuk-buruk Global untuk seseorang merupakan apabila Global dijadikan bertentangan dengan urusan akhiratnya dan membuatnya jauh dari ridha Rabbnya.” (HR. Hakim)

“Manusia yang paling berat siksaannya di hari Kiamat nanti merupakan orang yang memperlihatkan kepada orang lain seolah-olah dirinya menjalankan kebaikan, padahal di dirinya tak ada kebaikan sama sekali.” (HR Ad-Dailami)

“Barangsiapa memperlihatkan rasa takutnya terhadap Allah kepada orang lain melebihi yang ada di dirinya, maka dia merupakan munafiq.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya Allah mengharamkan surga untuk setiap orang yang riya’.” (HR. Abu Nuaim)

LIMA Asterik ORANG BERTAQWA
‘Utsman berkata:

“Ada lima hal yang merupakan Asterik orang yang bertaqwa, yaitu:
  1. tak suka bergaul, kecuali dengan orang-orang yang Bisa memperbaiki agamanya dan Bisa membuatnya memelihara kemaluan dan lisannya;
  2. bila mendapat musibah besar dalam urusan duniawi, ia menganggapnya sebagai hukum karma;
  3. bila mendapat musibah dalam masalah agama meskipun sedikit, dia bersedih;
  4. tak suka memenuhi perutnya dengan Boga yang halal sekalipun, di karenakan khawatir kalau-kalau tercampur dengan yang haram;
  5. memandang orang lain Higienis dari dosa, sementara memandang dirinya sebagai orang yang penuh dosa.”
LIMA GOLONGAN AHLI SURGA
‘Umar berkata:

“Sekiranya tak takut dituduh mengetahui hal yang ghaib, tentulah aku mau bersaksi bahwa kelima golongan manusia ini merupakan termasuk ahli surga, yaitu:
  1. orang fakir yang menanggung nafkah keluarganya;
  2. wanita yang suaminya ridha kepadanya;
  3. istri yang menshadaqahkan mahar/maskawinnya kepada suaminya;
  4. anak yang kedua orang tuanya ridha kepada dirinya; dan
  5. orang yang bertobat dari kesalahannya.”
Berkaitan dengan tobat, Nabi s.a.w. bersabda:
“Orang yang bertobat dari dosanya seperti orang yang tak mempunyai dosa.” (HR. Baihaqi)

“Setiap anak Adam pasti pernah menjalankan dosa, dan sebaik-bagus orang yang berdosa merupakan mereka yang bertobat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

“Sungguh Allah lebih suka kepada tobatnya seseorang daripada senangnya orang kehausan yang menemukan sumber air; orang mandul, lalu punya anak; dan orang kesasar, lalu menemukan jalan. Barangsiapa bertobat kepada Allah dengan tobat nashuha, maka Allah akan membuat lupa dua malaikat pencatat amal terhadap seluruh anggota badan orang tersebut dan tempat di permukaan bumi (yang digunakannya untuk berbuat maksiat) dan terhadap semua dosa dan kesalahannya.” (HR. Abul ‘Abbas)

LIMA MACAM KEGELAPAN DAN PENERANGNYA
Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata:
“Kegelapan itu ada lima dan lampu penerangnya pun ada lima, yaitu:
  1. Cinta Global merupakan suatu kegelapan, sedangkan lampu penerangnya merupakan ketaqwaan.
  2. Berbuat dosa merupakan suatu kegelapan, sedangkan lampu penerangnya merupakan bertobat.
  3. Kubur merupakan kegelapan, sedangkan lampu penerangnya merupakan bacaan: ‘Laa ilaaha illallooh Muhammadur Rosuulullooh.’
  4. Alam akhirat itu penuh kegelapan, sedangkan penerangnya merupakan amal shalih.
  5. Shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) sangat gelap, sedangkan penerangnya merupakan yaqin.”
Berkaitan dengan poin 1, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Cinta Global merupakan biang segala kesalahan.” (HR. Baihaqi, dari Hasan Al-Bashri)

Imam Al-Ghazali mengomentari Hadits di atas sebagai berikut: “Sebagaimana dikatakan bahwa mencintai Global itu merupakan biang segala kesalahan, maka membenci Global merupakan biang segala kebaikan.”

Nabi s.a.w. juga bersabda:
“Sungguh, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu di karenakan ketaqwaan kepada Allah s.w.t, melainkan Allah akan memberi ganti dengan yang lebih bagus kepadamu.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Berkaitan dengan poin 2, Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya apabila seorang hamba menjalankan dosa satu kali, maka di dalam hatinya timbul satu titik noda hitam. Apabila ia berhenti dari perbuatan dosanya dan memohon ampun serta bertobat, maka bersihlah hatinya. bila ia kembali berbuat dosa, maka bertambah hitamlah titik nodanya itu hingga memenuhi hatinya. Inilah arroon (Epilog hati) sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah dalam (QS. Al-Muthaffifiin (83): 14): ‘Sekali-kali tak (demikian), sebenarnya dosa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.'” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan hakim)

Berkaitan dengan poin 3, Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah ta’ala mengharamkan masuk neraka untuk orang yang membaca laa ilaaha illallooh dengan niat semata-mata di karenakan Allah ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
“Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallooh, maka ia akan masuk surga.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa wujud keikhlasannya?” Beliau menjawab: “Kalimat laa ilaaha illallooh tersebut Bisa mencegah kalian dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.” (HR. Al-Khatib)

Dikatakan bahwa ada tujuh hal yang Bisa menerangi alam kubur, yaitu:

  1. ikhlas dalam beribadah;
  2. berbakti kepada kedua orang tua;
  3. suka bersilaturrahmi;
  4. tak menyia-nyiakan umur untuk menjalankan kemaksiatan;
  5. tak menuruti kehendak hawa nafsu;
  6. bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah; dan
  7. memperbanyak dzikir kepada Allah.

Berkaitan dengan poin 4, amal shalih, Nabi s.a.w. pernah bersabda:
“Sesungguhnya Allah suka bila rukhshah-Nya dilaksanakan sebagaimana Allah suka bila ‘azimah-Nya dilaksanakan. Sesungguhnya Allah telah mengutus aku dengan membawa agama yang mudah, yaitu agama Nabi Ibrahim a.s.” (HR. Ibnu Asakir)

(‘Azimah merupakan Anggaran inti dari Allah yang wajib dikerjakan, seperti shalat Zhuhur wajib dikerjakan sebanyak 4 raka’at. Rukhshah merupakan bentuk keringanan dari Allah yang boleh dikerjakan, seperti menqashar shalat Zhuhur menjadi 2 raka’at untuk musafir -edt.)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
“Kerjakanlah ‘azimah dan terimalah rukhshah. Biarkan orang lain (mau mengerjakan ‘azimah dan menerima rukhshah atau tak); dengan begitu kalian akan dihindarkan dari keburukan mereka.” (HR. Al-Khatib)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
“Barangsiapa tak menerima rukhshah dari Allah, maka baginya dosa sebesar gunung ‘Arafah.” (HR. Ahmad)

Berkaitan dengan poin 5, penerang shirath merupakan yaqin. Yaqin merupakan membenarkan dengan sepenuh hati segala hal ghaib dengan menghilangkan segala bentuk keraguan.

LIMA PERKARA YANG MENGIRINGI LIMA PERKARA LAINNYA
Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Allah tak membagikan lima perkara kepada seseorang, kecuali Allah telah menyediakan baginya lima perkara yang lain, yaitu:
  1. Allah tak membagikan kesempatan untuk bersyukur, melainkan Dia telah menyediakan tambahan nikmat.
  2. Allah tak membagikan kesempatan untuk berdo’a, melainkan Dia telah menyediakan pintu ijabah (pengabulan do’a).
  3. Allah tak membagikan kesempatan untuk beristighfar, melainkan Dia telah menyediakan pintu ampunan.
  4. Allah tak membagikan kesempatan untuk bertobat, melainkan Dia telah menyediakan pintu qobul (penerimaan tobat).
  5. Allah tak membagikan kesempatan untuk bershadaqah, melainkan Allah telah menyediakan baginya pintu taqabbul (penerimaan shadaqah).”
Berkaitan dengan poin 1, Allah ta’ala berfirman:
“Sungguh, bila kalian bersyukur, pasti Aku akan menambahkan(nikmat) kepada kalian.” (QS. Ibrahim (14): 7)

Berkaitan dengan poin 2, Allah ta’ala berfirman:
“Berdo’alah kepada-ku, niscaya akan Kuperkenankan do’a kalian.” (QS. Al-Mukmin (40): 60)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. biasa berdo’a dengan do’a berikut:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu Heroisme yang tenang, yang percaya akan pertemuan dengan-Mu, ridha akan ketetapan-Mu, dan qana’ah atas pemberian-Mu.” (HR. Thabarani)

Berkaitan dengan poin 3, Allah ta’ala berfirman:
“Mohonlah ampunan kepada Tuhan kalian; sesungguhnya Dia merupakan Maha Pengampun.” (QS. Nuh (71): 10)

Rasulullah s.a.w. pun bersabda:
“Sesungguhnya kalian berbuat dosa hingga dosa kalian setinggi langit, setelah itu kalian bertobat, niscaya Allah akan mengampuni dosa kalian.” (HR. Ibnu Majah)

Berkaitan dengan poin 4, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Disekitar ‘Arsy terdapat tulisan yang berumur 4.000 tahun sebelum Global diciptakan. Tulisan tersebut berbunyi: ‘Wa innii laghoffaarun liman taaba wa aamana wa ‘amila shoolihan tsummah tadaa.'” (Sesungguhnya aku Maha Pengampun untuk setiap orang yang bertobat, beriman, dan beramal shalih, setelah itu ia berusaha untuk mendapatkan petunjuk). (HR. Dailami)

Rasulullah s.a.w. pun bersabda:
“Sesungguhnya kalian berbuat dosa hingga dosa kalian setinggi langit, setelah itu kalian bertobat, niscaya Allah akan mengampuni dosa kalian.” (HR. Ibnu Majah)

Berkaitan dengan poin 5, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Setiap orang akan berada dalam naungan shadaqahnya hingga ia menerima keputusan masalah yang berkaitan dengan manusia lainnya.” (HR. Imam Ahmad)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
“Tiada seorang hamba yang menshadaqahkan sesuatu semata-mata mencari ridha Allah, kecuali Allah berfirman di hari Kiamat nanti: ‘Wahai hamba-Ku, engkau telah mengharapkan keridhaan-Ku, maka di hari ini aku tak akan menghinakan dirimu. Aku haramkan tubuhmu tersentuh api neraka dan masuklah ke dalam surga dari pintu mana yang engkau kehendaki.'” (HR. La-aal)

LIMA PERKARA YANG DICINTAI DAN LIMA PERKARA YANG DILUPAKAN
Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Akan datang suatu masa di umatku yang di masa itu mereka mencintai lima perkara dengan melupakan lima perkara yang lain, yaitu:
  1. Mereka mencintai Global dengan melupakan akhirat.
  2. Mereka mencintai rumah megah dengan melupakan kubur.
  3. Mereka mencintai harta dengan melupakan hisab (pertanggungjawabannya).
  4. Mereka mencintai keluarga dengan melupakan bidadari.
  5. Mereka mencintai dirinya sendiri dengan melupakan Allah. Mereka yang seperti itu jauh dariku dan aku pun jauh dari mereka.”
LIMA Embargo MEREMEHKAN
Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa meremehkan lima golongan, maka ia akan rugi dalam lima hal, yaitu:
  1. Barangsiapa meremehkan ulama, maka ia akan rugi dalam urusan agama.
  2. Barangsiapa meremehkan pemerintah, maka ia akan rugi dalam urusan Global.
  3. Barangsiapa meremehkan tetangga, maka ia akan rugi dalam beberapa hal yang ia perlukan.
  4. Barangsiapa meremehkan kaum kerabat, maka ia akan rugi dalam urusan Afeksi sayang.
  5. Barangsiapa meremehkan istrinya, maka ia akan rugi dalam urusan kenikmatan Hayati.”
Berkaitan dengan tetangga, Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda:
“Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah beriman seorang hamba hingga ia mencintai tetangganya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang mempunyai tetangga jelek yang suka menyakiti dirinya, namun ia tetap bersabar dan mengharap pahala Allah atas perilaku tetangga yang menyakitkannya hingga Allah menyudahinya, bagus sewaktu masih Hayati atau dengan kematian.” (HR. Bukhari)

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • nashoihul ibad bab 4
  • nashoihul ibad bab 5
  • terjemah nashoihul ibad bab 4
  • terjemah dan penjelasan dari kitab nashoihul ibad bab 4
  • kitab nashoihul ibad bab 3
  • terjemahan kitab nashoihul ibad Bab 4
  • kitab nasoihul ibad bab 4
  • kitab nasoihul ibad bab ke 4
  • kitab nasoihul ibad bab puasa
  • https://yandex ru/clck/jsredir?from=yandex ru;search;web;;&text=&etext=1833 IcAdJUE5Kxcoq0hUOudfOBxFTU-5b2n2bCEbqzol_yV1-gRtiMQm6qpdBTKYF_I3 7584aa4ad24e933afe7646025accb81d990df5b2&uuid=&state=_BLhILn4SxNIvvL0W45KSic66uCIg23qh8iRG98qeIXme
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *