Kumpulan Kisah Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani

Ujian dari al-Khidir
Beliau, al-Khidhir, datang kepadaku untuk membagikan suatu ujian, sebagaimana ia telah menguji para wali-wali Allah yang lain sebelumku. Dia menyingkap kepadaku rahasia dari wujudnya dengan tips menampakkan wawasan Futuristis materi-materi yang aku dapatkan bersamanya, setelah itu aku berkata kepadanya, “Wahai Khidhir, bila benar engkau pernah berkata di Musa a.s. (kita tak akan pernah Bisa bersabar bersamaku), maka sekarang aku akan katakan kepadamu, “Wahai Khidhir, bahwa kita tak akan pernah bersabar bersamaku, kita seorang Israili, sementara aku yaitu seorang Muhammadi, inilah kita, kita dan aku, dan ini yaitu bola polonya, celanaku masih terikat kuat dan pedangku belum disarungkan.”

Anugerah Jubah Sufi
Beliau juga berkata, “Selama sebelas tahun aku membetahkan diriku tinggal direruntuhan benteng yang saat ini disebut menara Persia. Tempat itu menjadi pemukiman panjangku. Di tempat itu aku membuat perjanjian dengan Allah Swt. bahwa aku tak akan pernah makan hingga akhirnya ada yang menyediakan Boga buatku, dan aku tak akan pernah minum hingga ada yang memberiku sarana untuk memuaskan dahagaku. setelah itu aku tinggal di situ selama empat puluh hari tanpa makan dan minum. di hari keempat puluh, datang seorang laki-laki membawa sepotong roti dan beberapa Boga, dia meletakannya di depanku dan Genjah beranjak pergi meninggalkanku sendiri. Nafsuku setelah itu Genjah-Genjah memaksakan keinginan untuk menyambar Boga tersebut, maka aku katakana, “Demi Allah, Boga ini tak sejalan dengan perjanjian yang aku ikrarkan kepada Allah,” setelah itu di dalam batinku aku mendengar suara yang keras dan berteriak, “Lapar!” tapi aku tetap menolak untuk menurutinya.
Kebetulan di saat itu Syekh Abu Sa’id al-Makarimi melintas di depanku dan mendengar suara teriakan itu, lalu ia mendekatiku dan bertanya kepadaku, “Apa arti teriakan tadi, wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani?” Aku menjawab, “Tadi itu hanyalah Intuisi Heroisme rendahku, seperti halnya ruh, ia akan reda dengan sendirinya.” setelah itu ia berkata kepadaku, “Datanglah ke gerbang Al-Azaj.” Lalu ia pergi meninggalkanku, dan aku berkata kepada diriku sendiri, “Aku tak akan pernah meninggalkan tempat ini, kecuali Tuhan sendiri yang memerintahkanku.”
setelah itu al-Khidhir a.s. datang kepadaku dan berkata, “Bangunlah dan pergilah ke Abu Sa’id al-Makarimi.” Maka akupun bergegas pergi, dan di sana aku menjumpainya sedang berdiri di depan rumahnya tengah menanti kedatanganku. “Wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani,” katanya kepadaku, “Apakah belum cukup bagiku saat aku katakana, “Datanglah kepadaku,” setelah itu ia menganugerahkan jubah sufi dengan tangannya sendiri, dan semenjak saat itu, aku dengan tekun membaktikan diriku kepadanya, dan menjadi muridnya yang rajin. Semoga Allah meridhoinya.

Melayang saat Berdakwah
Al-Khatab, pembantu Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, berkata: suatu hari saat Syekh sedang membagikan ceramah, beliau tiba-tiba naik beberapa langkah ke angkasa dan beliau berkata, “Wahai Israil, berhentilah dan dengarkan Perkataan-Perkataan Sang Muhammad!” setelah itu beliau kembali ke tempat duduknya semula. saat beliau diminta untuk jelaskan kejadian tersebut, beliau menjawab, “Abu al-Abbas al-Khidhir berada di atas sana. Tadi ia sedang melintasi majelis kita ini, maka aku memintanya berhenti dan berkata kepadanya apa aja yang aku dakwahkan kepada kalian semua.”

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • ceramah syekh abdul qodir jaelani
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *