MAKRIFAT SYEIKH SITI JENAR SIRI 1: INTISARI AJARANNYA

“Insun anakseni ing Datingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran amung Ingsun, lan nakseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun, Rasul iku rahsaning-Sun, Muhammad iku cahyaning-Sun, iya Ingsun kang eling tan terkena ing lali, iya Ingsun kan langgeng ora terkena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kukurangan ing pangerti, byar.. sampurna padhang terawang-an, ora karasa apa-apa, ora ana keton apa-apa, mung Insun kang nglimputi ing ngalam kabeh, kalawan kodrating-Sun.” (R. Ng. Ranggawarsita, WIRID Punika Serat Wirid Anyariyo-saken Wewejanganipun Wali VIII, Administrasi Jawi Kandha Surakarta, penerbit Albert Rusche & Co., Surakarta, 1908, hlm.15-16).

Terjemahan, “Aku angkat saksi di hadapan Dzat-Ku sendiri, sesungguhnya tak ada Tuhan kecuali Aku, dan Aku angkat saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku, sesungguhnya yg disebut Allah Ingsun diri sendiri (badan-Ku), Rasul itu Rahsa-Ku, Muhammad itu cahaya-Ku, Akulah Dzat yg Hayati tak akan terkena mati, Akulah Dzat yang selalu ingat tak pernah lupa, Akulah Dzat yg kekal tak ada perubahan dalam segala keadaan, (untuk-Ku) tak ada yg samar sesuatupun, Akulah Dzat yang Maha Menguasai, yang Kuasa dan Bijaksana, tak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benerang, tak terasa apa-apa, tak kelihatan apa-apa, hanya Aku yg meliputi sekalian alam dengan kodrat-Ku.”

Ajaran tersebut disebut sebagai ajaran atau wejangan Sasahidan Serat Wirid Hidayat Jati merupakan naskah paling terkenal hasil karya R. Ng. Ranggawarsita. Menurut R. Ng. Ranggawarsita, naskah tersebut merupakan wejangan wali ke-8. wali VIII yang dimaksud merupakan Sunan Kajenar atau Syekh Siti Jenar. Ini sesuai dengan pernyataan Ranggawarsita sendiri dalam naskah tersebut di halaman 5 dan 6, dimana wejangannya merupakan Sasahidan atau Penyaksian. Oleh Ranggawarsita, Sunan Kajenar disebut sebagai wali dalam dua angkatan, yakni angkatan pertama di awal Kerajaan Demak dan angkatan dua, yakni di masa akhir Kerajaan Demak. Melihat pernyataan ini, logis bila tahun wafatnya Syekh Siti Jenar ditetapkan di tahun 1517, sebab setelah kekuasaan Raden Fatah usia Kerajaan Demak tak berlangsung lama, disambung dengan Kerajaan Pajang.

Dari wejangan Sasahidan itu, nampaklah pengalaman spiritual dan keadaan kemanunggalan di diri Syekh Siti Jenar terjadi dalam waktu yang lama, dan mendominasi Keseluruh wahana batin Syekh Siti Jenar. Nampak juga bahwa dalam intisari ajaran tersebut, konsistensi sikap batin dan sikap dzahir dari ajaran Syekh Siti Jenar. bila ilmu tak ada yang dirahasiakan dalam pengajaran, maka demikian pula pengalaman batin dari keagamaan juga tak Bisa disembunyikan. Dan pengalaman keagamaan yang terlahir tak wajib ditutup-tutupi walaupun dengan dalih dan selubung syari’at. Dan akhirnya dalam ajaran Sasahidan itulah, semua ajaran Syekh Siti Jenar tersimpul.

 
Facebook Comments

Incoming search terms:

  • penjelasan wejangan serat wirid hidayat jati
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *