Manaqib Gusti Muhammad Ramli (Wali Katum)

Gusti Muhammad Ramli (Wali Katum) : suatu Riwayat Singkat Auliya dari Tanah Banjar

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

       Nama “Wali Katum” sudah tak asing lagi untuk warga asli Kota Banjarmasin khususnya, dan masyarakat Kalimantan Selatan di umumnya.

Nama beliau sebenarnya merupakan Muhammad Ramli bin Anang Katutut, di masa kecil beliau bernama Artum Ali, beliau Hayati apa adanya tanpa berusaha (bekerja), hari-hari beliau habiskan hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT.
    
     Apabila ada Boga beliau makan, tapi kalau tak ada beliau akan puasa. Meskipun demikian beliau tak pernah mengeluh, minta-minta dan menyusahkan orang lain.
  
     Beliau selalu menutup diri dari orang lain dan suka menyendiri, sehingga tak banyak aktivitas beliau yang terekspos. di karenakan itulah di masyarakat beliau lebih dikenal dengan sebutan “ Wali Katum”.
Perkataan Katum diambil dari bahasa Arab yang berarti sembunyi.
   
     Diceritakan, beliau kalau pergi selalu membawa Al-Qur’an apabila berhenti beliau akan membacanya, hingga akhir hayat beliau. Al-Qur’an tersebut tak lagi persegi empat,  melainkan berbentuk lonjong di karenakan Hepotenusa-sisinya sudah aus terkikis lantaran sering dibaca.
   
     Menurut penuturan Gusti Sulaiman bin Gusti H. Hasan (‘Guru Tuha’ kawan dekat dari Tuan Guru Abdussamad Kampung Melayu Sungai Bilu, Banjarmasin, sewaktu selama 7 tahun menuntut ilmu di Mekah), bahwa :
Gusti H.Hasan merupakan kakak dari Gusti Anang Katutut yang merupakan ayah dari Muhammad Ramli (“Wali Katum”).

Dengan demikian maka, Gusti Sulaiman bin Gusti H. Hasan merupakan mempunyai Interaksi keluarga sebagai sepupu sekali dengan” Wali Katum” atau Gusti Muhammad Ramli bin Gusti Anang Katutut.
   
     Selanjutnya, menurut Gusti Sulaiman bin Gusti H. Hasan, yang kini berusia 95 tahun di Banyiur Dalam, Basirih Banjarmasin, ada beberapa keganjilan (khawariqul ‘adat) dari “Wali Katum”, begitu pula dengan bapaknya Gusti Anang Katutut.
  
     Diriwayatkan pernah suatu hari serombongan orang bermobil datang untuk mengundang dan menjemput Gusti Anang Katutut (ayah Wali Katum), namun beliau tak mau naik mobil dan mempersilahkan tamu yang menjemputnya lebih dahulu pulang. Sedangkan beliau mengeluarkan suatu sepeda butut yang tempat duduknya hanya dililitkan kain supaya Bisa duduk di atas sepeda butut tersebut.
   
     Namun Alangkah terkejutnya rombongan yang ingin mengundang beliau, ternyata ayah Wali Katum sudah tiba lebih dahulu dan sedang menyandarkan sepeda bututnya di depan rumah yang ingin mengundang tersebut, padahal sewaktu berangkat tadi rombongan yang mengundang lebih dahulu dan Genjah di karenakan memakai mobil.
  
      Selanjutnya diriwayatkan pula oleh Gusti Sulaiman bin Gusti H. Hasan, bahwa tempo dahulu di musim haji, seseorang jama’ah haji dari Hulu Sungai melihat seorang pria di mekah yang berjalan beriringan, namun sambil berinting-inting atau jalan berjingkat-jingkat tanpa terompah (maklum zaman dulu tak ada sandal jepit). Lalu jama’ah haji tersebut bertanya di pria yang berjingkat, apakah sedang kepanasan kaki berjalan di padang pasir, namun pria itu menjawab :” tak”. setelah itu ditanyakan siapa namanya dan tinggal dimana, Pria misterius itu menyebutkan namanya Muhammad Ramli dan alamatnya di Tebu Darat, Hulu Sungai Tengah.
     di karenakan merasa kasihan oleh jama,ah haji itu saat melewati pasar dibelikanlah “Sepasang Terompah”, namun setelah menerima terompah tersebut, pria berjingkat-jingkat tadi menghilang begitu aja.
     Setelah selesai menunaikan ibadah haji dan pulang ke kampung halaman, Sang jama’ah haji tadi teringat dan ingin pergi menemui Muhammad Ramli, di Tebu Darat. Tapi menurut penduduk kampung Tebu Darat, bahwa tak ada warganya yang naik haji tahun ini. Tapi kalau orang yang bernama Muhammad Ramli memang ada, tapi tak pergi haji, namun hanya berkhalwat di gubuk persawahan.
     Merasa penasaran sang jama’ah haji itu lalu minta bawakan ke Gubuk Muhammad Ramli tersebut. Dan ternyata memang beliau lah yang bertemu dengannya di Mekah, sedangkan “Sepasang Terompah” terlihat ada digantungkan di dinding rumah / Gubuk Muhammad Ramli.
     Sejak saat itulah masyarakat baru mengetahui, bahwa Muhammad Ramli merupakan seorang Wali Allah SWT, sehingga beliau diberi gelar “Wali Katum” atau wali yang tersembunyi.
    Gusti Muhammad Ramli atau (“Wali Katum”) wafat tanggal 24 Juni 1982 M bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1402 H di usia sekitar 70 tahun.
    Makam “Wali Katum” terletak di desa Tabu Darat kecamatan Labuan Amas Selatan kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan.


Makam keramat “Wali Katum” juga menarik ,di karenakan selalu mendapat kunjungan ziarah dari masyarakat Kalimantan Selatan dan juga wisatawan peziarah lainnya.
*******
Sumber :
-H.Gusti Sulaiman bin Gt.H.Hasan (Guru Tuha) , Banyiur Dalam, Basirih 
 Wisata Banua, Sinalinali

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • Wali amut
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *