Memahami Konsep Jihad

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif
Insists

tak ada istilah paling sering disebut orang belakangan ini kecuali Perkataan ‘terorisme’ dan ‘jihad’. Pengaburan dan kejahilan sebagian orang membuat kesan seolah-olah dua Perkataan ini sinonim atau sama artinya. di karenakan gagal atau Disorientasi memahami konsep jihad dan bahkan melupakan sama sekali konteks sejarah, hukum, rukun, syarat dan adab-adabnya, terjadilah berbagai macam aksi dan reaksi yang merugikan, distorsi dan disfungsi yang kontraproduktif.

Menurut Sayyid Sabiq, ‘jihad’ berasal dari Perkataan ‘juhd’, artinya upaya, usaha, kerja keras dan perjuangan. Seseorang dikatakan berjihad apabila ia berusaha mati-matian dengan mengerahkan segenap kemampuan fisik ataupun materiil dalam memerangi dan melawan musuh agama (lihat: Fiqh as-Sunnah, Beirut: Mu’assasat ar-Risalah, 1422 H/2002, 3:79). Dengan Perkataan lain, berjihad sama dengan berperang (qital), seperti dimaksud dalam imperatif ini: jaahidi l-kuffar wa l-munafiqin (QS 9:73 dan 66:9).

Adapun hadis riwayat Imam al-Bayhaqi dan al-Baghdadi yang menyatakan bahwa perang melawan hawa nafsu yaitu ‘jihad akbar’, sebagian ulama seperti az-Zayn al-‘Iraqi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani menilainya sebagai hadits lemah.

BACA JUGA: tak Sedekah dan tak Jihad, dengan Apa Engkau Masuk Surga?

Dalam sejarah Islam, perintah jihad dalam arti qital baru turun di Madinah, di tahun ke-2 Hijriah, atau Anemia lebih 14 tahun setelah beliau berdakwah, mengajak orang kepada Islam, memperkenalkan dan mengajarkannya bagus dengan cara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.

Selama lebih dari satu dekade di Mekkah Rasulullah SAW diperintahkan untuk menghindari konfrontasi dengan kaum pagan. Beliau disuruh bersabar dan memaafkan mereka yang tak henti-hentinya menjalankan intimidasi dan teror.

Seperti kita ketahui, teroris-teroris semacam Abu Jahl ibn Hisyam dan Abu Lahab tak hanya menolak, tapi juga merintangi dan berusaha melumpuhkan dakwah Islam, sangat sering bahkan dengan kekerasan dan penyiksaan (torture). Namun Allah berfirman, fa-shfah ‘anhum wa qul salam, maafkan mereka dan katakanlah salam perdamaian! (QS 43:89). Beritahukan kaum beriman, hendaklah mereka mengampuni orang-orang yang tak mengharapkan hari-hari Allah (QS 45:14).
Kaum Muslim di masa itu juga dilarang membalas kekerasan dengan kekerasan. Mereka dipuji di karenakan mampu bersabar dan membalas kejahatan dengan kebaikan, wa yadra’una bi l-hasanati s-sayyi’ah (QS 13:22).

Yang menjadi prioritas di masa itu yaitu pembinaan individu dan pembentukan jamaah Muslim yang solid (Imam Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Beirut, al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1416 H/1995, jilid 3, hlm. 213).

Penindasan, kezaliman dan teror kaum kafir Quraisy terhadap komunitas Muslim mencapai klimaksnya saat Rasulullah SAW dan para pengikutnya mulai dipersekusi. Saat itu di Mekkah hampir tak ada lagi ruang yang tersisa untuk kaum Muslim menghirup kebebasan beragama.

Sejumlah petinggi-petinggi Quraisy telah berkonspirasi untuk ‘menghabisi’ Nabi Muhammad SAW, once as well as for all. Hanya ada dua pilihan untuk kaum Muslim di waktu itu: bertahan di Mekkah akan tetapi keluar dari Islam, atau pun bertahan dalam Islam akan tetapi keluar dari Mekkah. Dan mereka memilih yang kedua: hijrah ke Madinah (lihat Imam Ibn Katsir, as-Sirah an-Nabawiyyah, ed. Mushthafa Abdul Wahid, Beirut, Dar al-Fikr, 1398 H/1978, jilid 2, hlm. 213-266).

Di Madinah, Rasulullah SAW menjalankan penataan ke dalam dan Ekspansi sayap dakwah Islam ke luar. Beliau mendirikan masjid, memimpin shalat jum’at, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, menjalankan diplomasi, negosiasi dan ekspedisi dakwah, bagus dengan komunitas lokal (seperti kaum Yahudi dengan membuat Perjanjian Madinah), ataupun dengan komunitas internasional (dengan para kepala negara di sekelilingnya). setelah itu turun pula perintah adzan, menyeru orang untuk shalat berjama’ah, dan perintah berpuasa di bulan Ramadhan. Dan tak lama setelah itu turunlah perintah berjihad (QS 22:39-41; 2:190-193 dan 2:216-218).

Dalam ayat-ayat tersebut di atas dijelaskan mengapa dan untuk apa jihad dilakukan. Yaitu, apabila orang Islam diperangi, dizalimi, dihalau dari kampung halamannya sendiri, semata-mata di karenakan agama yang diyakininya itu.

Jihad diizinkan apabila jalan dakwah disekat, kaum Muslim dimusuhi dan diserang, dijajah dan dirampas Copyright-Copyright asasinya.Apabila kaum kafir melancarkan ‘udwan, muqatalah, zhulm dan fitnah terhadap Islam dan umat Islam.

Oleh di karenakan itu, tujuan jihad jelas, untuk mempertahankan diri dan menangkis Agresi lawan, menegakkan agama Allah, melepaskan Umat Islam dari belenggu penindasan, menjamin dan melindungi Copyright-Copyright mereka, mengakhiri kezaliman dan permusuhan, demi terciptanya kedamaian dan keadilan (QS 4:75).

Musuh tak dicari, namun kalau bertemu pantang lari. Begitulah prinsip yang diajarkan (QS 8:15 dan 47:4). Jihad hanya dihentikan bila musuh berhenti menyerang dan setuju berdamai, bila mereka berjanji tak akan menekan dan memusuhi Umat Islam lagi (QS 2:193 dan 8:61).

BACA JUGA: Kisah 3 Jihad yang Hayati di Negara Barat

Sudah barang tentu, jihad memerlukan kalkulasi yang cermat dan persiapan yang matang (QS 8:60), koordinasi yang mantap serta strategi yang tepat dan jitu (QS 61:4 dan 3:0). Berjihad tak boleh sembrono atau asal-asalan, tak boleh membabi-buta dan mengikuti hawa nafsu belaka.

Perkara-perkara dalam berjihad

Ada banyak perkara yang wajib diperhatikan oleh seorang mujahid. Pertama, niat yang betul, yakni li-i‘la’i kalimatillah, bukan untuk gagah-gagahan, cari popularitas, dan tujuan duniawi lainnya. Kedua, wajib dibawah komando seorang imam dan setelah ada deklarasi perang. Ketiga, wajib seizin kedua orangtua. Keempat, wajib banyak berzikir, berdoa dan bersabar. Kelima, wajib memberi kesempatan terakhir kepada musuh sebelum berperang dengan mengajak mereka masuk Islam atau membayar jizyah. Keenam, dilarang membunuh kaum wanita, anak-anak, dan orang-orang lanjut usia. Ketujuh, tak boleh merusak lingkungan Hayati, rumah-rumah ibadah dan fasilitas Generik (lihat Abu Bakr al-Jaza’iri, Minhajul Muslim, Kairo, Dar al-Aqidah, hlm. 272-275).

Berjihad merupakan fardhu kifayah. Artinya, tak wajib semuanya pergi ke medan perang. wajib ada juga yang ditugaskan membangun Umat di sektor-sektor lain, terutama pendidikan (QS 9:122). Jihad Bisa menjadi fardhu ayn apabila kampung halaman kita diserang dan diduduki musuh (seperti terjadi di zaman kolonial dahulu, sekarang, ataupun yang akan datang).

Namun demikian, terdapat puluhan ayat al-Qur’an dan hadits Nabi SAW yang menerangkan keutamaan jihad dan penghargaan yang akan diperoleh oleh seorang mujahid, apalagi untuk mereka yang gugur sebagai syuhada’ (Imam an-Nawawi, Riyadh as-Shalihin, Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1422 H/2002, 415-435).

Dalam konteks Indonesia dan negara-negara Muslim lainnya dewasa ini, dimana Islam belum dengan cara total direalisasikan, para tokoh gerakan Islam umumnya berpendapat bahwa agenda utama yang mesti didahulukan saat ini yaitu membina individu dan organisasi Muslim serta membangun kekuatan Umat di semua lini.

Dengan Perkataan lain, belum tiba masanya untuk orang Islam sekarang ini untuk menjalankan konfrontasi militer melainkan dalam kasus-kasus yang kita semua maklum (lihat: Husayn ibn Muhammad ibn Ali Jabir, at-Thariq ila Jama’at al-Muslimin, Dar al-Wafa’, 1407 H/1987). Wallahu a’lam. []

Memahami Konsep Jihad

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *