Menjadi Mukmin yang Kuat

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Derajat keimanan dan ketakwaan seseorang ternyata tak sama di hadapan Allah SWT. Sebagaimana berlaku di berbagai golongan dan kelompok, levelisasi keimanan di orang beriman juga terjadi.

Contohnya, di institusi kepolisian. Kendati sama-sama anggota polisi dan memakai seragam yang sama, pangkat masing-masing mereka tidaklah sama. Ada yang jenderal, komandan, dan ada pula yang prajurit.

Demikian pulalah yang terjadi di keimanan setiap orang beriman. Kendati sama-sama orang beriman, di hadapan Allah ada level-level keimanan yang diraih seseorang. Orang beriman yang paling tinggi derjatnya yaitu mereka yang paling dicintai oleh Allah SWT. Semakin dekat ia dengan Allah, semakin tinggilah derajat keimanannya.

Lalu, siapakah mereka yang paling dicintai Allah itu? Hadis dari Abu Hurairah RA menyebutkan, “Orang beriman yang kuat lebih bagus dan lebih dicintai Allah SWT daripada orang beriman yang lemah dan di keduanya ada kebaikan.” (HR Muslim).

Tentu aja orang yang kuat lebih bagus kualitas ibadahnya daripada mereka yang lemah. dengan cara logika aja, orang yang kuat dengan cara fisik akan lebih mampu untuk memperbanyak intensitas dan kualitas ibadah ketimbang orang yang lemah.

Orang yang kuat dengan cara ekonomi akan mampu berinfak dan bersedekah lebih banyak ketimbang orang yang perekonomiannya lemah. Jadi, Disorientasi satu upaya untuk meraih kecintaan Allah dan menggapai derajat keimanan yang lebih tinggi yaitu dengan menjadi mukmin yang kuat.

Lantas, kuat seperti apakah yang dimaksudkan dalam hadis tersebut? Imam Nawawi mendefinisikan kuat dalam Hadis Riwayat Muslim tersebut yaitu kuatnya tekad untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah SWT. Sudah menjadi karakter dan tabiat untuk orang beriman untuk berlomba-lomba memburu kebaikan dan ketaatan kepada Allah.

Para sahabat Nabi SAW selalu mencari tahu, apa sunah Nabi mereka yang belum sempat mereka kerjakan. bila ada momentum menjalankan kebaikan, mereka tak ingin ketinggalan, apalagi mengabaikannya.

Inilah yang didefinisikan para ulama bahwa levelisasi keimanan dikelompokkan di tiga kelompok besar. Pertama, mereka yang termasuk di kategori as-Sabiquna bil khairat (golongan yang senantiasa bergegas menjalankan kebaikan). Mereka yang termasuk di golongan ini yaitu mereka yang senantiasa menyibukkan diri menjalankan hal yang wajib dan yang sunah.

tak hanya itu, mereka berupaya meninggalkan seluruh yang haram, bahkan yang makruh. Mereka senantiasa bertekad untuk menyempurnakan amalan-amalan yang dianjurkan.

Kedua, golongan al-Muqtashidun (golongan pertengahan), yakni mereka yang merasa cukup dengan mengerjakan yang wajib-wajib aja serta meninggalkan perkara-perkara yang haram. Sedangkan, yang ketiga, az-Zhalimuna li anfusihim (golongan yang menzalimi diri sendiri), yakni mereka yang mencampuradukkan perbuatan yang bagus dengan perbuatan yang keji.

Mereka yang termasuk dalam as-Sabiquna bil khairat tak ingin melewatkan sekecil apa pun kesempatan untuk menunaikan kebaikan. Misalnya, saat menjelang Perang Tabuk, sekelompok orang miskin di Madinah datang menemui Rasulullah SAW. Mereka memohon untuk disertakan jua pergi berperang. Namun, di karenakan keterbatasan ekonomi, mereka tak berkesanggupan membeli baju perang.

Untuk Empati berperang, memang membutuhkan biaya yang tak sedikit. Mulai dari peralatan perang, baju pelindung, hingga bekal untuk keluarga yang ditinggalkan. Semua wajib tercukupi dengan bagus.

Orang-orang miskin tersebut akhirnya tak diizinkan Rasulullah untuk Empati ke Perang Tabuk. Alasannya, Rasulullah SAW tak Bisa menyediakan peralatan perang untuk mereka. Hal yang tak mungkin untuk mengizinkan mereka Empati terjun ke kancah perperangan tanpa dilengkapi persenjataan dan baju pelindung. Kendati menjadi syahid yaitu cita-cita para mujahid, tak serta-merta pula seorang mujahid wajib ‘konyol’ memasuki medan pertempuran.

Setelah upaya mereka tak jua mendapat izin Rasulullah SAW untuk Empati berperang, kelompok orang miskin tersebut menangis. Mereka kecewa alang-kepalang di karenakan mereka tak mendapat kesempatan untuk beramal saleh. Begitulah kelompok as-Sabiquna bil khairat yang senantiasa memburu amal saleh.

Bagaimana halnya orang-orang yang mengaku beriman di zaman sekarang. Justru mereka merasa bersyukur saat mendapat peluang tak berkontribusi dalam kerja-kerja positif. Mereka bersyukur kalau mereka luput dari kesempatan beramal saleh. Kalau Bisa, mereka tak ditagih untuk mengeluarkan zakat. Bersyukur tak kebagian jatah untuk ronda di kompleks. Bahagia Bisa mendapatkan kesempatan tak Empati shalat Tarawih atau Tahajud dan larut dalam tontonan Piala Global. Lantas, apakah kita akan bangga juga tak digolongkan sebagai orang-orang beriman?

Menjadi Mukmin yang Kuat

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *