Sambungan…Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 9



“Apanya yang membuat kisanak di kebingungan? Saya tak pernah  membuat bingung orang lain apalagi menyusahkan orang.” Syekh Siti  Jenar menghentikan langkahnya, lalu menatap ke tiga rampok  tersebut. “Hanya kisanaklah yang ingin membuat susah dan  menyusahkan diri sendiri.”
“Apa maksud ucapan, Syekh?” ke tiga rampok hampir serempak  menepuk dahinya masing-masing. Kepala seakan-akan mau pecah  saat mendengar setiap perkataan Syekh Siti Jenar.
“Saya manusia biasa seperti kisanak, bukan pemilik ilmu. Bukankah  kisanak sendiri dan ilmu itu ada pemiliknya? Itukah yang membuat  kisanak bingung?” tatap Syekh Siti Jenar, mengulang ucapannya.
“Itulah yang tak kami pahami. di karenakan kami orang awam, tak  tahu segala hal yang Syekh ucapkan.” Kebo Benowo berusaha  mencerna ucapan Syekh Siti Jenar. “Syekh tadi mengatakan, kalau  diri Syekh yaitu manusia biasa seperti saya,”
“Ya,”
 “Bukankah Syekh mempunyai ilmu yang hebat? Sedangkan kami tak  Bisa apa-apa?” ujar Kebo Benowo.
 “Saya tak mempunyai ilmu yang hebat. Kisanak mengaggap tak  Bisa apa-apa, itu merupakan pernyataan yang sangat Galat.” Syekh  Siti Jenar diam sejenak, matanya menatap satu persatu wajah orang  yang diajak bicaranya.
“Kenapa tak mau mengakui kalau diri Syekh mempunyai ilmu yang  hebat.” sela Kebo Benowo. Pikirannya semakin sumpek mendengar  setiap perkataan Syekh Siti Jenar yang bersebrangan dengan  realita yang dia pahami. “Malah pengakuan saya dianggap Galat,”
“Memang benar kisanak sangat Galat.” Syekh Siti Jenar, mendongak  ke atas langit, “Tataplah bintang gemintang yang ada di atas  kepala kisanak nun jauh di langit.”
“Apakah ada yang aneh dengan bintang-gemintang di langit?” tanya  Kebo Benowo. Belum menemukan celah terang atas segala perkataan  Syekh Siti Jenar, pikirannya semakin ngejelimet.
“Bukan ada yang aneh atau tak. Perhatikanlah bintang-bintang?  Kenapa tak jatuh ke bumi dan menimpa kepala kita? Pernahkah  terpikir dalam benak kisanak, siapa yang menahannya di langit?”  Syekh Siti Jenar kembali menatap ke tiga rampok tadi.
“Benar juga. tak tahu. Mukinkah kekuatan yang tak nampak?”
“Kenapa kekuatannya tak nampak? Siapa pula yang mempunyai  kekuatan yang tak nampak itu?” tanya Syekh Siti Jenar.
“Saya tak mengerti Syekh? bila memang ada kekuatan siapa  pemiliknya?”
“Dialah Allah. Allah itu penguasa semesta alam. Penggenggam  setiap Heroisme makhluknya.” ujar Syekh Siti Jenar. “Kita kembali  di ucapan saya semula. Maksud saya itulah tadi.”
“O…ya.” Kebo Benowo mengangguk-anggukan kepala, rupanya mulai  ada titik terang di benaknya.
“bila demikian saya mulai terbuka dengan apa yang Syekh Siti Jenar uraikan tadi. Namun yang masih  membingungkan, mengapa dianggap Galat bila saya mengatakan tak  Bisa apa-apa di banding kisanak.”
“bila kisanak mengatakan tak Bisa apa-apa, tentu aja mati.  Hanya orang matilah yang tak Bisa apa-apa.” terang Syekh Siti  Jenar.
“Benar perkataan kisanak, Syekh.” Kebo Benowo mengagguk. “Namun  maksud tak Bisa apa-apa disini bahwa ilmu yang saya miliki jauh  dibawah kehebatan ilmu Syekh.”
“Ya,” Syekh Siti Jenar mengangguk. “Itu bukan berarti bahwa saya  lebih hebat dari kisanak. Hanya kisanak belum menemukan ilmu yang  saya miliki.”
“Itulah yang saya inginkan dari Syekh. Beritahu saya tips  menemukan ilmu tadi.” ucap Kebo Benowo.
“Akan saya tunjukan. Ikutlah kisanak ke padepokan saya!” Syekh  Siti Jenar membalikan tubuhnya, setelah itu melangkahkan kakinya  dengan tenang.
“Terimaksih, Syekh.” Kebo Benowo dan kedua temannya sangat suka  akan diberi ilmu hebat yang dimiliki oleh Syekh Siti Jenar. ***
Walisongo terus menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sunan  Kalijaga berbeda tips dengan wali lainnya. Lebih menyukai berbaur  dengan rakyat kebanyakan, tanpa mengenakan pakaian serba putih seperti yang lainnya.
“Kanjeng Sunan Kalijaga, ternyata pendekatan budaya lebih Bisa  diterima ketimbang hanya membawa pesan belaka.” ujar Sunan  Bonang.
Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *