Serambi-serambi Akhlak (1)

SETIAP orang ingin merasakan kebahagiaan. Ada yang menyangka dengan datangnya uang maka ia akan menjadi bahagia sehingga iapun mencari uang mati-matian. Ada juga yang menyangka bahwa kedudukan Bisa membuatnya bahagia, maka ia pun mencoba merebut kedudukan. 

Ada yang menyangka penampilanlah yang akan membuatnya bahagia, maka mati-matian ia mengikuti mode. Ada yang menyangka banyaknya pengikut membuatnya bahagia, begitu seterusnya.

Setiap kali kita membutuhkan sesuatu dari selain kita, kita menyangka bahwa itulah yang akan membuat kita bahagia. Kita menggantungkan Asa di selain kita, selain Allah. 

BACA JUGA: Mengapa Akhlak Sangat Penting dalam Islam?

Padahal semakin kita berarap orang lain berbuat sesuatu untuk kita maka sebenarnya peluang bahagia itu malah akan terus menurun. Kenapa? Ibarat cahaya matahari yang memancar tanpa membutuhkan input dari luar, kebahagiaan yang hakiki itu justru datng bukan dari seseorang atau dari sesuatu.

Disorientasi satu bentuk kebahagiaan yang sejati yaitu saat kita hanya menggantungkan segala urusan kepada Allah. untuk orang yang  mengenal Allah dengan bagus, dan ia tak berharap banyak dari selain Allah, itulah Disorientasi satu kebahagiaan. 

Maka untuk kita yang selama ini masih sangat ingin dihargai, masih sangat ingin dihormati, masih sangat ingin dibedakan oleh orang lain, masih sangat ingin diberi ucapan terima Afeksi saat menjalankan sesuatu untuk orang lain, atau masih sangat ingin dipuji, maka sebenarnya makin tinggi kebutuhan kita akan penghargaan dari orang lain, itulah yang akan menyempitkan Hayati kita. 

Barang siapa yang sukses lepas dari kebutuhan-kebutuhan semacam itu, dan kita sudah mulai Bisa menikmati indahnya membagikan senyuman kepada orang lain dan bukannya diberi senyuman; atau merasakan nikmatnya Bisa menyapa orang lain dan bukan disapa, nikmatnya menyalami dan bukan menunggu disalami, semakin kita tak berharap orang berbuat sesuatu untuk kita, maka inilah fondasi kita dalam menikmati Hayati ini. 

Fenomena yang ada di masyarakat kita dengan terjadinya beraneka kemunkaran, kezhaliman dan kejahatan, itu dikarenakan di karenakan kita terlalu banyak berharap kepada makhluk dan tak kepada Allah.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah, suatu saat Rasulullah SAW ditanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau diutus ke bumi?”

Maka jawaban Rasulullah sangat singkat sekali, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Menurut Imam Al Ghazali, berdasarkan apa yangbisa saya fahami, akhlak itu yaitu respon Impulsif terhadap suatu kejadian. di saat kita diam, tak akan kelihatan bagaimana akhlak kita. Akan akan tetapi saat kita ditimpa sesuatu bagus yang menyenangkan ataupun sebaliknya, respon terhadap kejadian itulah yang menjadi alat ukur akhlak kita. Kalau respon Impulsif kita itu yang keluar yaitu Perkataan-Perkataan yang bagus, mulia, berarti memang sudah dari dalamlah kemuliaan kita itu.

BACA JUGA: Belajar Taqwa dari Ummi Nurdjani Djaja

Tanpa wajib dipikir banyak, tanpa wajib direkayasa, sudah muncul kemuliaan itu. Sebaliknya kalau kita memang sedang dikalem-kalem, tiba-tiba terjadi sesuatu di diri kita, misalnya sandal kita hilang, atau ada orang yang menyenggol, mendengar bunyi klakson yang nyaring lalu tiba-tiba sumpah serapah yang keluar dari mulut kita, maka lemparan yang keluar sebagai respon Impulsif kita itulah yang akan menunjukkan bagaimana akhlak kita. 

Maka bila bertemu dengan orang yang meminta sumbangan lalu kita berfikir keras diberi atau jangan. Kita berpikir, kalau dikasih seribu, malu di karenakan nama kita ditulis, kalau diberi lima ribu nanti uang kita Demisioner. 

Terus, berfikir keras hingga akhirnya kita pun memberi akan akan tetapi niatnya sudah bukan lagi dari hati kita di karenakan sudah banyak pertimbangan.Padahal keinginan kita semula yaitu untuk menolong. Kalau sudah demikian, sebetulnya bukan akhlak dermawan yang muncul. []

BERSAMBUNG

Serambi-serambi Akhlak (1)

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *