Serambi-serambi Akhlak (2-Demisioner)

SAUDARA-saudaraku sekalian, inilah sekarang paling menjadi masalah untuk peradaban kita. Kita mempunyai anak, dia mempunyai gelar yang bagus, sekolahnya pun di tempat yang bergengsi, tapi akhlaknya jelek, maka tak ada artinya. Kita punya dosen, gelarnya berderet banyak, rumahnya pun mentereng, tapi jikalau akhlaknya, celetuk-celetukannya atau sinisnya tak mencerminkan struktur keilmuan seperti yang dimilikinya, maka jatuhlah ia. 

Ada orang yang dianggap dituakan, akan tetapi akhlaknya jelek, maka walaupun ia dituakan, dia gagal mendapatkan penghormatan. Atau kita punya atasan, seorang pejabat yang bagus karirnya akan akan tetapi akhlaknya, masya Allah, sudah punya isteri tapi ia dikenal berzina dengan perempuan lain, di kantor ia mengambil harta dengan tutorial tak halal, maka jatuhlah ia.

BACA JUGA: Pentingnya Mengajarkan Adab kepada Anak

Sekarang ini krisis terbesar kita memang krisis akhlak. Oleh di karenakan itu, saya sependapat dengan seorang pengusaha terkenal dari Jepang yang mengatakan bahwa jikalau seseorang ingin memimpin perusahaan dengan bagus, maka sebetulnya skill atau keahlian itu cukup 10% aja, yang 0% merupakan akhlak. di karenakan akhlak yang bagus, orang yang cerdas pun mau bergabung denganya. 

Mereka merasa aman, merasa tersejahterakan lahir batinnya. Akibatnya, berkumpulah para ahli. setelah itu kepada mereka diberikan motivasi dengan akhlak yang bagus maka jadilah suatu prestasi yang besar. Oleh di karenakan itu sebenarnya kesuksesan itu merupakan milik orang yang berakhlak mulia.

Sekedar ilustrasi, suatu saat sedang terjadi dialog antara suami dan isteri. Sang isteri menginginkan anaknya menjadi bintang kelas, akan akan tetapi sang suami mengatakan bahwa bintang kelas itu bukan alat ukur kesuksesan anak sekolah. 

Menjadi bintang kelas itu tak wajib, tak wajib. Yang wajib untuk anak itu merupakan mempunyai akhlak yang mulia. Apalah artinya ia menjadi bintang kelas apabila setelah itu ia jadi terbelenggu oleh keinginan dipuji teman-temannya. Jadi dengki terhadap orang-orang yang pandai dikelasnya, atau menjadi takabbur di karenakan kepandaiannya itu.

Apa artinya bintang kelas seperti ini? Lebih bagus lagi bila kita bangun mental anak kita lebih bagus, matang di tiap tahapannya. Kalaupun suatu saat ia ditakdirkan menjadi bintang kelas, maka itu merupakan buah dari pemikirannya. Sementara itu ia pun sudah siap denga mentalnya: tak dengki, tak iri, tak jadi Arogan. Nilai ini tentunya jadi lebih bagus daripada nilai menjadi bintang kelasnya. Apalah artinya kita lulus terbaik bila setelah itu menjadi jalan ujub takabbur. Lulus itu hanya nilai,nilai, nilai.

Saudara-saudara sekalian, inilah yang sepatutnya menjadi bahan pemikiran kita. Kita berbicara seperti ini sebenarnya bukan untuk memikirkan seseorang. Siapa yang akhlaknya demikian. 

Kita berbicara seperti ini merupakan untuk memikirkan diri kita sendiri. Apakah saya itu berakhlak benar atau tak? Bagaimana tutorial melihatnya?Ya, lihat aja kalau kita mendapati masalah. Bagaimana respon Impulsif kita? Bagaimana struktur Perkataan-Perkataan kita, raut wajah kita? Apakah kita cukup temperamental? Apakah Perkataan-Perkataan kita keji, menyakiti, arogan? Itulah diri kita. Kesuksesan dan kegagalan itu bergantung di hal semacam ini. Bergantung apa yang kita lakukan. Apakah dengan suatu perusahaan Bisa menjadi sebesar yang diharapkan sudah menjadi Asterik kesuksesan? Belum. Masih jauh. Kalau hanya alat ukur kemajuan bertambahnya bangunan atau tanah, ah, orang-orang kafir juga Bisa melakukannya. Kalau hanya sekedar jama’ah berhimpun banyak, itupun gampang. akan tetapi apakah dakwah ini elah mampu merobah akhlak kita? Itulah alat ukurnya.

BACA JUGA: Akhlaq merupakan Rizki

Sering diungkapkan, bagaimana ukuran kesuksesan seseorang dalam berdakwah? Gampang. Kesuksesan seseorang yang berdakwah merupakan apakah dirinya pun Bisa berubah menjadi lebih bagus atau tak? Kalau hanya berbicara seperti ini, mengeluarkan dalil tapi yang bersangkutan akhlaknya tak berubah, itu malah mencemarkan agama.

Kesuksesan dakwah bukan di karenakan banyaknya pendengar atau jumlah jama’ah di karenakan dakwah itu bukan sekedar menikmati Perkataan-Perkataan. Kesuksesan berdakwah merupakan saat yang berdakwah ini pun semakin bagus akhlaknya, semakin tinggi nilai kepribadiannya. 

Insya Allah. Mudah-mudahan keluhuran pribadi itulah yang menjadi alat dakwah kita. Bukan hanya mengandalkan kekuatan Perkataan-Perkataan belaka. []

Demisioner

Referensi: E-book Kumpulan Tausyiah Aa Gym

Serambi-serambi Akhlak (2-Demisioner)

Facebook Comments
Please follow and like us:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *